Jumat, 31 Desember 2010

Laskar Pelangiku


Laskar Pelangiku cuma istilah. Dia adalah sebutan yang kuberikan bagi anak-anak yang ada di perumku. Perumahan Pondok Galeria. Istilah yang timbul dan terinspirasi dari lagunya Giring, kelompok band Nidji.


Kutitipkan masa depan negeri ini pada mereka. Kami akan pergi dan mati, namun semangat kebersamaan dalam berkarya positif dan doa akan menghantar mereka wujudkan tiap cita-cita....

Sabtu, 18 Desember 2010

Buat Anakku... Adi dan Yudha


Engkau lahir dari buah cinta kami, kedua orangtuamu....
Jangan pernah ragu dan sangsikan perjuangan kami untuk melihatmu terus tumbuh
Jadi anak-anak yang surbhakti, berbakti pada Tuhan, keluarga, sahabat dan sesama ciptaan Tuhan.

Adi, engkau adalah yang maha utama... Kedigjayaan, jangan pernah membuatmu terlena dan lupa pada apa yang ada di bawah. Bahwa perjuangan masih panjang... Segala kerikil masih akan datang silih berganti. Lahirmu pada tanggal 1 Juli 1996, membuat kami begitu bangga dan mencintaimu sepenuh kasih.

Yudha, engkau lahir dari segala rintangan yang sempat buat kami waswas. Pecah ketuban terlebih dahulu, sungguh tidak terkira perjuangan menghantar engkau tumbuh jadi pria dewasa kelak. Lahirmu pada tanggal 15 Mei 2003 membuat kami bersyukur atas karunia boleh mengasuhmu dalam keluarga.

Jangan pernah abaikan ayahmu, anak2ku. Dia adalah pria yang begitu mengasihi keluarga, menjaga kita untuk tetap utuh dalam pelukan dan kasihnya, walau terkadang begitu keras cara yang diperlihatkan.... Dia sanggup ber jam jam mengelus tubuh kalian, memijat dengan sepenuh kasih, memberi makan, menjaga disaat tertidur atau beraktivitas seharian.

Tumbuhlah terus, anakku... terus kepakkan sayap kalian, bukan menjadi seperti yang kami harapkan, namun menjadi pria sejati dengan segala yang ada pada diri kalian. kembangkan segala kemampuan dan kemauan yang kalian miliki, dengan selalu berpegang dalam ajaran Dharma.

Takkan kujanjikan hidup bakal mudah dan indah bagi kalian, bahkan mungkin, kami takkan selalu ada mendampingi kalian dalam suka dan duka, hingga sepanjang hidup kalian. Namun semangatku, jiwaku, segenap pikiranku, dan seluruh cintaku... akan selalu ada mendampingi kalian...

Rabu, 15 Desember 2010

Wayan Penjaga Toko, Muridku di Paket Kejar

Namanya Wayan. Dia teman putra sulungku yang kini duduk dibangku SMA, sewaktu mereka masih di SD. Namun nasib menghantarkan mereka berdua pada perjalanan hidup dengan berbagai situasi dan kondisi berbeda. Pada usia belia, dia sudah harus bekerja menjadi penjaga sebuah mini market di Jalan Gunung Soputan. Dia menjadi tulang punggung perekonomian keluarganya untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup sehari-hari. Dia juga kini sedang menempuh pendidikan di paket kejar C. Walau begitu sering dia terpaksa membolos karena jadwal kerja yang tidak memungkinkannya mengikuti sekolah tersebut. Mengingatnya bagai membayangkan anakku dengan berbagai usaha dan problema dalam perjalanan kehidupan ....


Hmmm....

Setiap dari kita menghadapi permasalahan dan romantika kehidupan masing-masing. Tua-muda, susah senang, sakit-sehat, kaya-miskin, sendiri-bersama... Kita lah penguasa jiwa kita sendiri. Walau mungkin saja beranggapan paling lemah dan menderita dibanding orang lain, namun, yakin deh.... Pasti bisa. Mari wujudkan, jangan cuma teriak, anarki, OMDO, NATO, berkeluh kesah, mencaci. Malu ah, pada seorang Wayan. Anak se umur dia sudah harus mandiri. Bahkan... banyak lagi anak-anak lain di dunia ini....

Tak kan pernah ada yang bisa merampas, membunuh, mengambil apa yang ada dalam diri kita, yaitu:

Mind (pikiran), Spirit / Soul (Semangat / Jiwa), and... Love (Cinta)

Selasa, 07 Desember 2010

A letter from Mom and Dad


A letter from mom and dad

http://www.youtube.com/watch?v=TB6VkEcXfTo&feature=player_embedded

My Child…..

When I get old,

I hope you understand

And have patience with me

In case I break a plate

Or spill soup on the table

Because I am loosing my eyesight

I hope you don’t yell on me

Older people are sensitive

Always having selfpity when you yell

When my hearing gets worse

And I can’t hear what you’re saying

I hope you don’t call me “Deaf !!”

Please repeat what you said or write it down

I’m sorry my child

I am getting older

When my knees get weaker

I hope you have the patience to help me get up

Like how I used to help you

While you were little

Learning how to walk

Please bear with me

When I keep repeating my self

Like a broken record

I hope you just keep listening to me

Please don’t make fun of me

Or get sick of listening on me

Do you remember when you were little?

And you wanted a balloon?

You repeated yourself over and over

Until you got what you wanted

Please also pardon my smell

I smell like an old person

Please don’t force me to shower

My body is weak

Old people get sick easily

When they’re cold

Do you remember when you were little?

I used to chase you around

Because you didn’t want to shower

I hope you can be patience with me

When I am always cranky

It is all part of getting old

You’ll understand when you’re older

And if you have spare time

I hope we can talk

Even for a few minute

I am always all by myself

All the time

And have no one to talk to

I know you’re busy with your work

Even if you are not interested in my story

Please have time for me

Do you remember when you were little

I used to listen to your stories

About your teddy bear

When the time comes

And I get ill and bedridden

I hope you have the patience to take care of me

I am sorry

If I accidentally wet the bed or make a mess

I hope you have the patience to take care of me

During the last few moments of my life

I am not going to last much longer anyway

When the time of my death comes

I hope you hold my hands

And give me me the strength to face death

And don’t worry

When I finally meet our Creator

I will whisper in His hear to bless you

Because you loved your Mom and Dad

Thank you so much for your care

We love you

Mom and Dad

My Child…..

When I get old,

I hope you understand

And have patience with me

In case I break a plate

Or spill soup on the table

Because I am loosing my eyesight

I hope you don’t yell on me

Older people are sensitive

Always having selfpity when you yell

When my hearing gets worse

And I can’t hear what you’re saying

I hope you don’t call me “Deaf !!”

Please repeat what you said or write it down

I’m sorry my child

I am getting older

When my knees get weaker

I hope you have the patience to help me get up

Like how I used to help you

While you were little

Learning how to walk

Please bear with me

When I keep repeating my self

Like a broken record

I hope you just keep listening to me

Please don’t make fun of me

Or get sick of listening on me

Do you remember when you were little?

And you wanted a balloon?

You repeated yourself over and over

Until you got what you wanted

Please also pardon my smell

I smell like an old person

Please don’t force me to shower

My body is weak

Old people get sick easily

When they’re cold

Do you remember when you were little?

I used to chase you around

Because you didn’t want to shower

I hope you can be patience with me

When I am always cranky

It is all part of getting old

You’ll understand when you’re older

And if you have spare time

I hope we can talk

Even for a few minute

I am always all by myself

All the time

And have no one to talk to

I know you’re busy with your work

Even if you are not interested in my story

Please have time for me

Do you remember when you were little

I used to listen to your stories

About your teddy bear

When the time comes

And I get ill and bedridden

I hope you have the patience to take care of me

I am sorry

If I accidentally wet the bed or make a mess

I hope you have the patience to take care of me

During the last few moments of my life

I am not going to last much longer anyway

When the time of my death comes

I hope you hold my hands

And give me me the strength to face death

And don’t worry

When I finally meet our Creator

I will whisper in His hear to bless you

Because you loved your Mom and Dad

Thank you so much for your care

We love you

Mom and Dad

Jelang Galungan (Penampahan / h - 1)
















Selasa, 8 Desember 2010. Besok adalah Buda Kliwon Dunggulan, hari Galungan bagi umat Hindu. Sampian penjorku telah selesai dari tadi malam. Sampian gantung bagi tiap padma, tugun karang, dan pelangkiran telah siap pula dihiasi. Kini tinggal menghias penjor. Sebatang bambu telah siap, kolong-kolong telah pula selesai diolah oleh kedua anakku.

Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep.

Buda / Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma.


Hmmm,
Semenjak bertahun lampau, aku terbiasa membuat sendiri sampian penjorku. Walau mungkin banyak dijual orang di pinggir jalan, dari yang se harga sepuluh ribu rupiah, hingga ber puluh ribu lengkap dengan berbagai asosoris dan aneka pernak perniknya, namun sungguh tiada tara keindahan yang kurasakan dari membuatnya sendiri. Kuajarkan anak-anakku perlahan untuk memahami makna filosifis yang terkandung dari sebuah penjor, lengkap dengan sampiannya. Kuajarkan mereka untuk membuat sendiri, walau terkadang sungguh menjengkelkan menunggu hasil akhirnya, mereka sibuk dengan berbagai celotehan, menyela dengan berbagai aktivitas, hingga ku dibuatnya harus menyelesaikan sendiri karena mereka telah keburu kabur. Namun..... bukankah, orangtua yang baik akan selalu tiada lelah berusaha mengarahkan anak-anak untuk menunjukkan prestasi maksimal dari dalam diri mereka sendiri? Ah ha....

Bapak Widnyana Sudibya menjelaskan bahwa dibalik makna penjor adalah agar tiap orang punya pribadi yang teguh kokoh dalam menegakkan ajaran agama, namun lentur dan selalu toleran, penuh keindahan, luwes dalam berbagai pergaulan. Menurutnya : Tanam yg lurus agar kokoh, hias yg bengkok agar indah. Jadikan pribadi bagaikan 'tingkah' penjor, kokoh sekaligus indah....

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1150&Itemid=96 menjelaskan makna Penjor Galungan berdasar materi dari I Gede Manik, S.Ag

Umat Hindu dari jaman dahulu sampai sekarang bahkan sampai nanti dalam menghubungkan diri dengan Ida Sanghyang Widi Wasa memakai symbol-simbol. Dalam Agama Hindu simbol dikenal dengan kata niasa yaitu sebagai pengganti yang sebenarnya. Bukan agama saja yang memakai simbol, bangsa pun memakai simbol-simbol. Bentuk dan jénis simbol yang berbeda namun mempunyai fungsi yang sama.

Dalam upakara terdiri dari banyak macam material yang digunakan sebagai simbol yang penuh memiliki makna yang tinggi, dimana makna tersebut menyangkut isi alam (makrokosmos) dan isi permohonan manusia kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Untuk mencapai keseimbangan dari segala aspek kehidupan seperti Tri Hita Karana.

Masyarakat di Bali sudah tidak asing lagi dengan penjor. Masyarakat mengenal dua (2) jenis penjor, antara lain Penjor Sakral dan Penjor hiasan. Merupakan bagian dari upacara keagamaan, misalnya upacara galungan, piodalan di pura-pura. Sedangkan pepenjoran atau penjor hiasan biasanya dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dll. Pepenjoran atau penjor hiasan tidak berisi sanggah penjor, tidak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan dll. Penjor sakral yang dipergunakan pada waktu hari raya Galungan berisi sanggah penjor, adanya pala bungkah dan pala gantung, sampiyan, lamak, jajan dll.

Definisi Penjor menurut I.B. Putu Sudarsana dimana Kata Penjor berasal dari kata “Penjor”, yang dapat diberikan arti sebagai, “Pengajum”, atau “Pengastawa”, kemudian kehilangan huruf sengau, “Ny” menjadilah kata benda sehingga menjadi kata, “Penyor” yang mengandung maksud dan pengertian, ”Sebagai Sarana Untuk Melaksanakan Pengastawa”.

Umat Hindu di Bali pada saat hari raya Galungan pada umumnya membuat penjor. Penjor Galungan ditancapkan pada Hari Selasa/Anggara wara/wuku Dungulan yang dikenal sebagai hari Penampahan Galungan yang bermakna tegaknya dharma. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh didepan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Bila rumah menghadap ke utara maka penjor ditancapkan pada sebelah timur pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. Bahan penjor adalah sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa). Perlengkapan penjor Pala bungkah (umbi-umbian seperti ketela rambat), Pala Gantung (misalnya kelapa, mentimun, pisang, nanas dll), Pala Wija (seperti jagung, padi dll), jajan, serta sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan Sanggah Ardha Candra yang dibuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit.

Tujuan pemasangan penjor adalah sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bakti dan berterima kasih kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Penjor juga sebagai tanda terima kasih manusia atas kemakmuran yang dilimpahkan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Bambu tinggi melengkung adalah gambaran dari gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci. Hiasan yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, padi, jajan dan kain adalah merupakan wakil-wakil dari seluruh tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan yang dikarunia oleh Hyang Widhi Wasa.

Hmmm, semoga tiap umat di dunia menerapkan prinsip

Sura Dira Jaya Ningrat, Lebur Dening Pangastuti. Sagilik Saguluk, Salunglung Sabayantaka, Paras Paros Sarpanaya.

Kemarahan dan kebencian akan lebur dengan kelembutan. Kemarahan identik dengan kekerasan, kebencian identik dengan pertentangan, gabungan keduanya menimbulkan perpecahan, permusuhan, pertikaian, perebutan, penghancuran dan lain-lain. Kelembutan identik dengan kedamaian, pertemanan, persahabatan dan ketenangan. Dengan kelembutan, maka perasaan marah, benci akan terkikis. Pertikaian terhapus menjadi persahabatan, pertentangan menjadi ketenangan dan permusuhan menjadi kedamaian.

Rahajeng Galungan lan Kuningan..... Ngiring cakupang makekalih tangane ngastitiang jagad, mangda sekancan mauripe makesami rahajeng rahayu....

Sabtu, 04 Desember 2010

Demi Anakku.....


Jum'at malam, 4 Desember 2010, sat kami duduk berkumpul bersama di malam hari, sekeluarga. Putra sulungku Adi Pratama, berkata, "Ma, besok diminta menghadap ke sekolah, Adi belum berhasil mencapai standar nilai kelas untuk satu mata pelajaran, Biologi". Hmmm. Pendidikan masa kini, berpatokan pada nilai angka.

Well. Sungguh berat juga dengan begitu banyak nya beban yang harus mereka tanggung. Banyak target materi yang harus mereka selesaikan, kurikulum standar yang dibebankan pemerintah. Tidak ku harapkan anak-anakku menjadi anak yang super duper genius dan harus mengikuti berbagai kursus, belajar, dan selalu belajar. Takut sekali jika anak-anakku stres lalu mengalami gangguan jiwa. Kusadari ini, karena semenjak dari baru mengenal sekolah, orangtuaku sudah menempatkan kami berempat pada sekolah terbaik di kota kami, dengan segudang aktivitas pelajaran, berbagai ekstrakurikuler, tugas yang harus dikerjakan di rumah, dan seabreg kegiatan lain, sehingga bahkan tidak sempat bermain bersama anak-anak tetangga di lingkungan sekitar dimana kami tinggal.

Dan...
Sabtu pagi ini, pk 8, kuajak si bungsu, Yudhawijaya, berangkat ke sekolah kakaknya, SMAN I Denpasar, yang terletak di jalan Kamboja, daerah Kereneng, Denpasar. Sekolah ini terkenal dengan semboyannya, Karmany Eva Dhikaraste Maphalesu Kadhacana.

Di sana, kami, para orang tua murid, dikumpulkan di ruang Multimedia, yang terletak di lantai 2. Hmmm, baru ku tahu, para orang tua yang dikumpulkan hari ini adalah orangtua yang anaknya tidak berhasil mencapai nilai standar kelasnya bagi satu hingga dua nilai mata pelajaran. Sedang yang tidak berhasil mencapai tiga mata pelajaran dan lebih, akan berkumpul di sekolah pada tanggal 20 Desember nanti.

Anakku tidak berhasil mencapai standar nilai kelas bagi mata pelajaran Biologi, penyebabnya adalah karena materi Biologi diberikan dengan pengantar bahasa Indonesia, kecuali saat disampaikan dengan menggunakan LCD projector, disampaikan dengan bahasa Inggris. Dan... Ujian disampaikan dengan menggunakan bahsa Inggris. Hmmm. Banyak pula murid yang gagal mencapai standar nilai kelas nya karena banyak kesibukan lain di sekolah, seperti mengikuti berbagai lomba, walaupun itu demi membawa nama sekolah mereka. Untungnya, anakku yang dapat mengikuti Lomba Olimpiade Poster dan Komputer dan meninggalkan ujian akhir semester di sekolah, berhasil mengikuti ujian susulan.

Ah....
Semoga anak-anakku berhasil melewati tiap ujian ini, tidak hanya di bangku sekolah yang diikutinya, namun juga berbagai ujian di berbagai ruang sisi kehidupannya. Tuhanku, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, jangan pernah lelah untuk selalu mendampingi dan menegur anak-anakku dan juga keluargaku...