Minggu, 27 Maret 2011

Buku untuk anak-anakku


Diantar suami tercinta hingga bandara internasional Ngurah Rai, Jum'at 25 Maret 2011 pagi, aku berangkat menuju Jogja. Dengan pesawat Garuda Indonesia Airways, kami yang terdiri dari 25 mahasiswa Program S3 dan 20 mahasiswa ProgramS2 Pascasarjana Program Studi Kajian Budaya, Universitas Udayana, Denpasar Bali, 3 dosen dan 4 pegawai, beserta 6 anggota keluarga mereka, berangkat menuju Jogja. Pukul 7 pagi tepat, waktu Bali, pesawat lepas landas meninggalkan bandara internasional Ngurah Rai Denpasar Bali.

Tiba di Jogja tepat pukul 7.30, waktu Jogja, kami disambut dengan 2 bis besar berkapasitas masing2 30 orang. Guide kami, bapak Pranowo, dengan nama panggilan, Luna. "Maya" nya ada di Jakarta, demikian jelas bapak yang tampan tersebut. Tujuan pertama adalah Sekolah Pascasarjana UGM. Kami diturunkan di depan gedung tersebut setelah sempat tersasar ke Gedung Pusat dari kampus UGM. Ada miskomunikasi yang terjadi antara guide dan kepala suku dari rombongan kami yang mengira kuliah akan diadakan di Gedung Pusat kampus UGM.

Akhirnya kami tiba di Sekolah Pasca Sarjana UGM. Rombongan disambut dengan ramah oleh Sang Pimpinan, Bapak Prof. Dr. Irwan Abdullah. Kuliah pertama diisi oleh Profesor ganteng ini. Sessi pertama diakhiri dengan pemberian lukisan dari bapak Gede Sumantra, salah satu mahasiswa S3 dari rombongan kami, kepada Prof. Dr. Irwan Abdullah. Kemudian kami diberi kesempatan jeda selama 1 jam, menikmati makan siang di restoran Pesta Perak yang terletak di jalan Tentara Pelajar, di daerah Mataram. Pukul 12 siang, kuliah kembali dilanjutkan oleh Prof. Dr. Heru Noegroho, tetap di salah satu ruang di lantai 4 dari Sekolah Pasca Sarjana UGM ini.

Pukul 16, kami masuk ke Wisma MM UGM yang terletak di Jalan Colombo. Aku menempati kamar 512 bersama ibu Putu Tejawati. Kami merebahkan diri, tertidur 15 menit, lalu mandi, dan bersiap beranjak pergi lagi. Pukul 17 aku sudah berada di lobby hotel. Menunggu 15 menit, hujan turun deras membasahi bumi Jogja, akhirnya mobil avanza hitam dengan sopir bapak Tiyok tiba. Aku dan 3 sahabat wanita: Ibu Teja, Ibu Suci, Ibu Monda, 2 sahabat pria: Bapak AA Putra Pemayun, Bapak Nengah Mertha, bersama dua dosen, Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, Dr. Mudana beserta anaknya, beranjak menuju Social Agency yang terletak di jalan Solo.

Social Agency adalah nama toko buku yang lumayan terkenal. ada beberapa cabangnya, termasuk yang di pasar buku di dekat Taman Pintar. Namun yang paling besar terletak di Jalan Solo ini. Maka kami segera beranjak ke sana hunting buku-buku yang sekiranya bakal dibutuhkan bagi penyusunan disertasi kami. Bagai orang yang kesurupan, menjelajahi tiap sisi, mengamati dan membuka lembar-demi lembar halaman, kami sangat menikmati penelusuran pustaka ini. Satu demi satu, teman2 yang tertinggal di hotel juga akhirnya tiba di sini. Oww ya, toko buku - toko buku di jogja pada umumnya menyediakan jasa penyampulan buku yang kita beli. Secara gratis. Ini salah satu teknik mereka memberikan pelayanan yang berkualitas. Hmmm, harus banyak belajar dari mereka. Aku segera mengambil beberapa buku. Kubelikan pula beberapa buku bagi anak-anakku, mereka suka bongkar muat berbagai benda. Ku berjalan, mengangsurkannya pada kasir, membayar, dan petugas toko segera pula menyampul buku tersebut. Bahkan, pak Putu pegawai Program Studi Kajian Budaya juga membelikan beberapa buku bagi anak2nya. Ah, sungguh indah selalu membuka diri terhadap berbagai informasi yan datang dengan juga tak lupa menyaringnya terlebih dahulu...

Hujan masih turun lumayan deras. Namun kami masih harus beranjak. Pukul 7.30 malam, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pura Jagatnatha yang terletak di Banguntapan. Bersembahyang mencakupkan puja dan puji syukur bagi Tuhan yang telah memberi segala berkah bagi kami semua.... sebelum akhirnya kami menempuh perjalanan pulang ke hotel tempat kami menginap.

Sabtu, 19 Maret 2011

Sekali Lagi.... Demi Anak2ku


Setelah tiba dari perjalanan pulang kampungku ke Kerambitan bersama simbok, kami mampir ke toko sepeda di jalan Diponegoro. Kini sedang booming sepeda pixie. Anak2ku sejak lama mengikuti info ini, terkadang meminjam sepeda pixie temannya. Dan, mereka maklum, keluarga kami bukan keluarga berada, yang bisa memenuhi tiap kebutuhan akan materi. Juga, bukankah.... tiap orang harus paham, bahwa tidak tiap keinginan kita bisa seketika terpenuhi.

Suamiku saat SMA di Denpasar, terbiasa naik sepeda PP sekolah - rumahnya. Si sulung Adi, juga melewatkan SMP dengan bersepeda PP sekolah - rumah. Adi berhasil tembus rally speda dari pertigaan Serangan menuju Peninsula Nusa Dua, dan kembali ke rumah dengan bersepeda waktu masih duduk di kelas 3 SMP. Bahkan si bungsu yang masih duduk di bangku kelas 3 SD, sudah terbiasa gunakan sepeda dewasa untuk berjalan2. Dan... Minggu tgl 13 Maret 2011, dia berhasil naik sepeda dari pertigaan Serangan menuju kampusku, STPNDB, dalam rangka Fun Bike DIES ke 33 STPNDB. Sore harinya, kami langsung ke toko sepeda untuk memesan sebuah sepeda pixie yang termurah yang bisa kudapatkan demi kedua anakku. Cukup 1 sepeda bagi mereka berdua, toh keluarga kami masih punya beberapa sepeda lain lagi, walau sudah lama dan bekas tangan pemilikan orang lain. Dengan kerangka berwarna putih, ban warna hijau, velg berwarna item, sungguh pixie dengan warna warni heboh.

Setelah 1 minggu memesan, akhirnya sepeda pixie selesai dirakit dan siap untuk dibawa pulang. Maka, tiba dari kampung halaman, Kerambitan, kuarahkan motor ke jalan Diponegoro nomer 7-9, toko sepeda Bina Djaya. Rencananya, aku yang mengendarai sepeda gayung ini, dan simbok yang naik motor. Daripada kami pulang dulu ke rumahku, dan harus keluar lagi bareng anak2 untuk mengambil sepeda. Kasihan anak2... Mana Adi dan Yudha baru tiba dari sekolah masing2, dan suami yang baru selesai beres2 rumah juga kebun kami yg mungil. Hmmm, maka tugas si emak yang gagah perkasa buat kendarai sepeda gayung itu pulang ke rumah.

Pegawai toko sepeda membantu kami menyeberangkan sepeda ke jalan Thamrin, kukenakan selop tangan dan helm motor untuk mengurangi sengatan pancaran matahari pukul 2 sore hari, juga kaca mata hitam. Simbok mengendarai motor perlahan. Kukayuh pixie dullcrap, tolakan dari tiap kayuhan yang terasa aneh, ahhh. Sungguh, kasih anak se penggalan, kasih emak se panjang jalan. Kulihat tatap mata bahagia dari kedua anakku setiba di rumah, mereka sibuk mengelus sepeda baru, mengomentari tiada henti.....

Sedangkan aku? Terkapar sepenuh cucuran keringat yang mengalir deras setelah mengayuh sepeda di panas terik siang bolong sejauh belasan kilometer dengan ber helm motor, kaca mata item, kaos kaki dan sandal. Hmmmm tidur sejenak, sebelum bersiap sembahyang. Purnama Sasih kedasa, Saniscara Umanis Bala kini. Bulan bulat penuh. Aku ingin menghadap Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ke Pura Narmada dengan menghaturkan banten malam ini....

Senin, 14 Maret 2011

Anakku Adi


Anakku Adi....
Dia gemar sekali mengutak-atik komputer. Bukan bentuk fisiknya, namun segala programnya. Sudah semenjak umur 2,5 tahun terbiasa memegang keyboard dan mulai mengetik. Sudah 3 kali, program di laptop jebol, karena dia gunakan untuk mengetik, mungkin ada tombol yg tanpa sengaja telah membuat program berubah, sehingga terpaksa di re install. Dan harus kubawa ke Rimo, ke teknisi langgananku.

Menanjak besar, dia semakin canggih. Memiliki beberapa blogspot, senang menghasilkan gambar dan berbagai karya lainnya. Mengelola beberapa site. Saat kelas dua SMP, dia mencoba membuat baju kaos dengan gambar yang didesain sendiri, lalu dijual. Bahkan, dia lewati hari ulang tahunnya, dengan berkeliling menawarkan baju tersebut ke rumah teman2nya.

Hmmm....
Bukan pada besar kecilnya keuntungan yang didapat. Namun lebih pada usahanya, untuk mewujudkan cita-cita. Dia tipe anak yang gigih ditengah segala keterbatasan yang kami miliki.

Saat kelas 1 SMA, pada masa awal sekolahnya, dia memilih SCC, Computer Club, sebagai program ekstra kurikuler yang diikutinya. Berbagai aktivitas yang diadakan, membuatnya semakin dikenal di kalangan siswa. Dia dikenal bisa memperbaiki HP, membuat program bagi komputer yang dimiliki oleh teman2. Dan, awal tahun 2011, kubelikan dia magic pen, alat yang bisa membantunya untuk menyelesaikan rancangan gambar / desain grafisnya.

Akhirnya, Senin malam, 14 Maret 2011, dia pulang dari pertemuan bersama teman2 SCC. Dia memperlihatkan uang Rp 1,5 juta dari kelompok Ekstra Kurikuler SCC, dan menjelaskan bahwa mereka ber 15 orang, diberi tugas untuk membuat website bagi sekolah mereka. Woooww, bangga? Tentu saja. Namun, tidak boleh memperlihatkan kebanggaan berlebih, bisa sombong dan lupa diri. Anakku Adi juga menjelaskan, masih ada uang sejumlah Rp 1 juta, sebagai uang penjualan baju hasil rancangannya bagi SOG, teman sekolahnya, sebanyak 25 orang. Uang ini besok akan langsung disetor ke perusahaan yang dipilihnya untuk memproduksi baju hasil karyanya tersebut.

Ah, Astungkara Tuhan....
Telah membukakan jalan bagi anakku ini. Semoga dia berhasil dalam menjalani kehidupannya. Hidup mungkin tidak akan selalu indah dan mudah baginya. Namun, dengan bimbingan dan arah yang Kau tunjukkan, semoga dia akan baik-baik saja.... walau terjatuh dan gagal berkali.

Selasa, 08 Maret 2011

Senin, Selasa, dan Seterusnya Cinta.....

Simbok jatuh sakit, terkapar semenjak hari Minggu. Hmmm. Sungguh, daya tahan sebuah keluarga teruji dalam berbagai situasi dan kondisi. Anak-anak sudah beranjak besar. Namun peranan asisten pribadi ini sungguh luar biasa.... Tak bisa terbayangkan, jika para asisten rumah tangga pada mogok. Banyak orangtua yang bakal kelabakan, tidak bisa berangkat kerja, tidak bisa selesaikan berbagai urusan per rumah tangga an dengan segera.

Sejak Senin, 7 Maret 2011, terjaga pukul 5 pagi dan sudah kumulai dengan memasak, disela dengan mencuci baju anak2. Sebenarnya... hal yang tidak terlalu sukar, karena sering kulakukan pula. Suami menyapu di halaman, se isi rumah, dan lanjut dengan mengepel. Pukul 7, kuantar si bungsu ke tempat les, lanjut dengan kuliah di Gedung Pasca Sarjana kampus UNUD, jalan Jend. Sudirman. Hmmm. Profesor Wayan Tjatera dengan Social & Ecological Market Economy, nya. Sungguh menantang.

Demikian pula Selasa, 8 Maret 2011. Rutinitas pagi hari tetap berlanjut. Karena kuliah ku di Program Doktoral (S3) adalah Senin dan Selasa pagi. Kemudian, pukul 12 beranjak ke Nusa Dua, Kampus dimana aku mengabdi, untuk bekerja dan mengajar dalam aktivitas rutin sebagai seorang dosen. Jangan bayangkan, kulintasi jalan dengan mobil. Keluargaku tidak punya mobil. Kukendarai astrea 800 tercinta, atau astrea prima, dahulu milik ibu Sri Manis.

Sejak Selasa, si sulung libur, karena di sekolahnya, SMAN I, sedang diadakan program pemantapan bagi siswa klas III. Namun dia sejak pukul 2 siang sudah bertugas menjaga bazzar di Resto Daun Bawang di daerah Renon. Bazzar tersebut bagi SCC. Kelompok Studi Komputer di sekolah. Ah, putraku terkasih... Wayan Adi Pratama. Semenjak dia SD, sudah terbiasa tidak bisa tinggal diam. Selalu ada saja yang dikerjakannya. Mulai dari berjualan pernak-pernik, menyewakan buku, ikut mengendarai sepeda dari Pertigaan Pulau Serangan menuju ke Nusa Dua, bersama sahabatnya di perum kami pula. Kini... putra ku tercinta yang bungsu, Yudhawijaya, juga memiliki sifat2 nyaris mirip sang kakak. Tidak bisa tinggal diam walau sejenak.

Tiba di rumah sore hari, Selasa, 8 Maret 2011, suami selesai dengan urusan rumah tangga. Dia sedang dalam rangka juga selesaikan program Doktoralnya di kampus yang sama, bahkan program studi yang sama dengan ku, Cultural Studies. Hmmm, sebenarnya si bapak termasuk suami yang tidak macam-macam. Bersyukur memiliki dia sebagai bapak dari kedua putraku. Paham bahwa istrinya sedang selesaikan se ember penuh cucian, ia menjemput si bungsu dari sekolah. walau sesungguhnya sekolah si bungsu hanya berjarak 100 meter dari rumah kami.

Tiba di rumah, si bungsu sudah berteriak memintaku untuk segera menghantarnya mencari triplek, membeli palu dan paku, karet dan entah beberapa jenis barang lagi. Prakarya yang harus dikumpul keesokan harinya. Hmmmm, kuminta dia membuka dan mengganti seragam sekolahnya terlebih dahulu, sementara kuselesaikan dg urusan menjemur cucian. Lalu kami mulai keluar dan menyusuri jalan. Sayangnya, toko2 bangunan sudah tutup. Sudah pukul 5.30 sore. Maka, yang paling praktis adalah pergi ke daerah2 dimana terdapat pembangunan rumah / perumahan, mencari se penuh harap agar ada sisa2 triplek. Knapa bukan suami yang menghantarnya? Hmmmm, si bapak bukan tipe pria yg sabar untuk urusan mencari dan mengais benda2 yang dibutuhkan si kecil. Eh hehe.... dan, bukankah, dunia ini indah dengan segala perbedaan / variasi yang ada? Enjoy aja lah...

Astungkara....
Sang Hyang Widhi Maha Pemberi.... Kudapatkan 4 potong triplek bekas dengan ukuran 20 X 30 cm. Kami lalu mampir ke mini market untuk membeli palu dan beberapa perlengkapan lain. Malamku lanjutkan dengan membantu si bungsu selesaikan urusan prakarya sekolahnya.

Setelah urusan sembahyang sore hari, melantunkan puja dan puji bagi Tuhan, kami lanjut dengan makan malam tanpa si sulung yang masih dengan urusan bazzarnya. Aku lalu terkapar tidur, dan terjaga pukul 10 malam saat si sulung tiba. Kusempatkan temani dia, berbincang untuk aktivitasnya sepanjang hari tersebut. Dia mengangsurkan uang Rp 100.000. Aahhhhh.... aku terharu. Adi Pratama adalah anak yang cerdas. Dia lewatkan hari ulang tahunnya dengan jualan baju hasil desain grafisnya sendiri, dia belajar secara otodidak untuk membuat desain grafis dan menjualnya pada orang2 yang dikenal dengan bayaran kiriman pulsa di HP nya, dia bisa perbaiki HP yang bahkan tidak bisa digunakan kembali, termasuk membuatkan program komputer bagi teman2 nya.

Setiap usaha maupun proses, sebenarnya esensi yang sejati tidak terletak pada hasil yang besar atau berharga tinggi... Namun pada usaha itu sendiri, perjuangan untuk selalu bangkit dan bangkit lagi. Tidak janji, hidup ini bakal selalu mudah dan indah... namun jangan pernah bunuh asa dalam dada.

Sabtu, 05 Maret 2011

Ngembak Geni di Pagi Hari Pantai Petitenget, 6 Maret 2011



Sunggingku semburat di bibir pantai pagi ini...

Bersama Laskar Pelangi menyeruak hening mengawali tahun baru Caka 1933


Masih ada sisa Nyepi yang membias damai di hati,

Hyang Widhi, smoga tiada bencana dan konflik lagi...

Cukup sudah, air mata tertumpah dari sgala resah


Biarkan bijak menjelma di hati tiap insani,

hingga smakin dewasa menapaki hari-hari

dengan bekerja dan memuja hanya padaMu, Sgala Kuasa


Jadikan pemimpin yang bukan pemimpi lagi

hingga pijak kaki smakin pasti


Rakyat perlu ketenangan, bukan ketegangan

Rakyat perlu kesejahteraan, bukan sgala dongengan....

Ngembak Geni, Redite Kajeng Prangbakat, 6 Maret 2011


Mengawali pagi dini hari di awal tahun baru, Caka 1933,

dengan setangkup doa bersama keluarga.....


Sayup, lantunan Puja Trisandhya menyeruak semesta,

dari Sang Putera Mahkota, Adi & Yudha...


Semoga kami semakin yakin menapaki hari-hari,

dengan segala anugerah Hyang Maha Kuasa,

Sangkan Paraning Dumadi


Hari-hari...

mungkin berlari tak pasti

Hari-hari...

mungkin tak indah dan mudah bagi kami


Namun, sebuncah asa membekas di dada,

Senyum untuk selalu menjelang usaha dan doa

Yakinku kami pasti bisa...