Pancake Ceria di Penghujung Minggu
Indahnya Saraswati bersama Yudha dan Adi, juga Sang Suami terkasih, Saniscara, Kajeng Umanis Watugunung, 23 April 2011. Saraswati adalah hari dimana ilmu pengetahuan diturunkan ke muka bumi oleh Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semangat menanamkan nilai luhur, memupuk dan mengembangkan dalam berbagai aplikasinya di dunia kehidupan ini, menghantarku pada upaya persiapkan seluruh keluarga di pagi hari...
Adi, si sulung yang bersekolah di SMAN I Denpasar, grafis desainer, calon dokter, senang berhemat, rajin me banten, namun terkadang masih manja bhianget, sudah berangkat ke sekolah untuk bersembahyang di Pura sekolahnya semenjak pagi. Yudha, si bungsu yang masih duduk di bangku kelas 3 SDN 3, pelukis muda dengan segala goresan di buku dan tembok rumah, pencinta binatang dan gemar bersepeda ria, juga sudah berangkat menuju sekolah dengan mengenakan busana adatnya.
Rencananya, aku akan berangkat menuju Pura Niti Bhuwana di kampus STPNDB, di Nusa Dua. Namun demam yang melanda membuatku memilih tertidur bersama suami yang juga baru sembuh dari sakitnya. Tuhan Maha Mengerti, dan bukankah masih ada waktu juga kesempatan lain untuk menunjukkan bukti bhakti kami pada Beliau dengan segala manifestasinya... Kami terjaga saat anak-anak sudah tiba dari sekolah.
Sore hari, kami mewujudkan rencana lain yang telah kami sepakati... Banten Saraswati kuhaturkan di Padma rumah kami, kugelar tikar untuk duduk bersama, suami menjadi pemimpin persembahyangan sekeluarga. Puja Trisandhya mengalir indah bersama panca sembah. Sinar rembulan membagikan cahayanya dengan dihantarkan wangi dupa melati yang semerbak menyeruak udara di sekeliling kami.
Selesai dengan lantunan puja dan puji syukur bagi Hyang Widhi dan Bunda Gayatri di Padma rumah kami, sekeluarga bergerak menuju Pura Jaganatha yang berada di bagian Utara Perumahan, kembali menghaturkan rangkaian buah dan kue dalam sebuah bokor perak kecil. Lalu kami lanjutkan menghaturkan sembah sujud di Pura Dalem Pejarakan Ulun Lencana, Pura Padmasari di Kampus Sastra Unud, hingga Pura Padmasari di Kampus Pascasarjana Unud di Jalan Sudirman.
Tatkala menyapa Rumah Tuhan di sini, Kampus Sudirman, terlihat para mahasiswa yang tergabung dalam Forum Persaudaraan Mahasiswa Hindu Dharma Unud sedang menggelar rangkaian acara Gema Bersama Saraswati. Ada Bondres, ada tari Cili Naya, diiringi oleh gamelan gong yang dimainkan oleh para mahasiswa itu sendiri. Juga pengumuman pemenang lomba merangkai gebogan, penjor dan busana adat ke Pura. Ada pula para dosen yang datang bergabung bersama mereka. Tema yang digelar pada GBS ke 31 kali ini adalah Satyam Siwam Sundaram, Manunggal Guna Ika Wiakeng Widyotama.
Hmmm, indahnya kebersamaan ini, bersembahyang memperlihatkan wujud kebersamaan, memanjatkan rasa syukur pada Sang Hyang Widhi, walau hanya dengan haturan yang mampu kami persembahkan. Astungkara, Tuhan.... takkan kugadai cintaku ini......
http://fpmhd-unud.blogspot.com/2009/01/dewi-saraswati.html
Ilmu pengetahuan merupakan salah satu unsur untuk meningkatkan tarap hidup manusia. Betapa pentingnya ilmu pengetahuan itu bagi manusia sehingga di dalam ajaran Agama Hindu diabadikan dalam bentuk simbolis Dewi Saraswati.
Perihal sosok cantik untuk menggambarkan Dewi Saraswati, sesunguhnya mengandung arti simbolis. Bahwa apa yang digambarkan cantik itu pasti menarik, karena Dewi Saraswati adalah Dewi ilmu pengetahuan, maka tentu saja akan membuat umat manusia tertarik untuk mempelajari ilmu pengetahuan itu sendiri. Ketertarikan di sini jelas bukan dari segi fisik biologis, melainkan harus dilihat etis-religius. Bahwa mempelajari ilmu pengetahuan sebenarnya adalah salah satu bentuk bhakti kita kepada Dewi Saraswati. Tentu saja ilmu pengetahuan yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Ilmu pengetahuan merupakan harta yang tak ternilai harganya, sebab selama manusia itu hidup, ilmu pengetahuan yang dimilikinya tidak akan habis atau berkurang malah akan bertambah terus sesuai dengan kemampuannya menyerap ilmu pengetahuan. Lain halnya dengan harta benda duniawi yang sewaktu-waktu bisa habis, kalau tidak cermat memanfaatkannya. Ilmu pengetahuan merupakan senjata yang utama dalam meningkatkan kehidupan dunia ini. Orang bisa mencapai kedudukan yang terhormat, kewibawaan, kemuliaan kalau memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi.
Dalam ajaran Tri Murti menurut agama Hindu, Sang Hyang Aji Saraswati adalah saktinya/kekuatan Sang Hyang Brahma. Beliau diwujudkan sebagai wanita cantik bertangan empat lengkap dengan berbagai atributnya antara lain: wina/alat musik, teratai, genitri, cakepan/kitab. Disamping itu terdapat pula burung merak dan angsa. Dari semua atribut itu memiliki makna sebagai beikut:
Angsa adalah simbul dari kebijaksanaan untuk membedakan antara yang baik dengan yang buruk. Dan juga angsa merupakan lambang kekuasaan di ketiga dunia (tri loka) karena ia bergerak di tiga unsur alam yaitu di air, darat maupun di udara.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang berfungsi sebagai tempat bagi kalangan pendidik untuk melaksanakan proses pembelajaran kepada anak didiknya. Sangat tepatlah sekolah yang berada di daerah Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dibuatkan monumen ilmu pengetahuan dalam bentuk patung Dewi Saraswati untuk mengabadikan symbol suci ilmu pengetahuan. Hal ini dapat memberi ciri khas dan wibawa sekolah sebagai tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan. Di samping tujuan tersebut dapat juga bermanfaat dalam proses pembelajaran di antaranya, yaitu :
Not all legends are about victory, some are about struggle...... Finding out who you are, and your reason for being (Kafi Kurnia) Minggu 17 April 2011. Setelah menempuh perjalanan rusak parah dari Asah Badung, Sepang Kelod, menuju Dapdap Putih, sempat terjatuh dan tertimpa motor hingga kaki lebam-lebam, masih bersyukur anak dan suami tidak alami cedera apapun. Aku merasa bersalah pula, karena mengendarai motor kurang waspada, padahal ada suami dan anak di boncengan. Termasuk dengan hilangnya 3 jas hujan dari ransel suami, karena retsleting ransel tidak bisa tertutup. Akhirnya kami tiba dengan mengendarai Yamaha Jupiter MX pukul 15.00 di Pondok tercinta, hum swit hum. Setelah kuselesaikan mencuci 2 ember pakaian, jaket, celana panjang yang kami kenakan tadi, topi, dan ransel... pukul 6 kami berangkat lagi. Kali ini aku bersama Adi dan Yudha. Kami menuju Pasar Burung Satria yang terletak di jalan Veteran. Harus punya kandang bagi si monyet, agar dia tidak berlarian, atau selamat dari ke lima ekor anjing kami. Setelah selesai dengan urusan untuk mendapatkan kandang yang sesuai, kusempatkan mampir ke rumah ipar di jalan Antasura. Ya, sudah lama kami tidak mengunjungi mertua yang sekarang berdiam di rumah iparku ini. Tidak lama di sana, kami kembali pulang ke rumah. Tetangga depan rumah sedang merayakan serangkaian upacara tentang perbaikan rumahnya. Dan, bukankah, cukup bijak jika kita ikutan datang mengucapkan selamat bagi mereka? Malam pukul 10. Ingin kurebahkan tubuh lelah ini, namun masih ingin memeriksa email yang tiba selama 2 hari tidak internetan. Ada beberapa mailing list yang kuikuti, ada beberapa email pula yang harus dijawab, baik tentang jadwal ujian akhir semester di kampus, penugasan beberapa rekan, dan lainnya lagi. Lagipula, si monyet masih belum terbiasa dengan situasi baru, dia mengeluarkan suara2 minta perhatian, lumayan berisik. Dan..... Adi menyampaikan bahwa dia sedang meng install ulang isi perut PC komputer kami, Mozilla dan Chrome belum selesai, juga YahooMessenger. Olala..... Anakku ini, dia sedang di puncak kreativitas dengan segala energi yang memuncak. Segalanya serba diutak-atik. Bahkan... seluruh data yang kusimpan dg baik di C, terhapus. Termasuk tugas-tugas kuliah yang siap dikumpulkan minggu depan bagi Program Pascasarjana S3 Kajian Budaya Universitas Udayana yang kuikuti. Aaaaarrrgggghhhh. What a day. Sungguh2 hari yang heboh sekeluarga. Bersama dengan suami dan kedua anakku. Namun.... tetap berbahagia, dan mencoba jadi ibu yang bijak slalu......


