Sabtu, 23 Juli 2011

Remajaku Sayang....

















Remaja adalah sosok dengan energi mengalir deras bagai tiada habis. Perlu banyak2 minum air untuk menenangkan jiwa menghadapi berbagai dinamika yang seringkali muncul secara tidak terduga dari remaja. Ledakan dinamika berbagai energi yang mereka miliki disertai dengan turutan / tautan emosi pula, hingga membutuhkan penyaluran yang positif sebagai bekal pembentukan dan pengembangan kepribadian. Inti tujuannya adalah agar setiap pikiran, perkataan dan perilaku remaja mampu berwujud pada ruang yang positif pula, kini, dan di masa depannya kelak.

Ah ha....

Dengan dua anak yang memasuki usia remaja...... yang bisa kulakukan mungkin hanya berusaha menyiapkan sarapan pagi mereka, dan menyiapkan kotak bekal makanan siang yang berisi nasi, telor, dan lauk pauk se adanya. Ini bisa membantu mereka, bila rasa lapar mendera di sekolah, di saat jam istirahat tiba. Juga bekal sebotol minuman air putih. Cukup sebagai asupan energi atas segala aktivitas harian di sekolah.

Adi adalah remaja pria yang bagai torpedo. Sikapnya terkadang rada terburu-buru. Namun semangat untuk menolong orang lain yang kutanamkan sejak kecil sering memercikkan rasa bangga. Akhir2 ini kesibukannya bertambah dengan rencana SCC (Smansa Computer Club) menyelenggarakan lomba karya ilmiah. Rapat demi rapat, merancang desain, mencari sponsor bagi kegiatan kelompok nya, memasarkan, dan termasuk menjual tiket, sungguh sebuah aktivitas yang menghabiskan tenaga. Terkadang, harus sedikit memaksa untuk mengingatkan dan mengatur jadwal kegiatannya. Namun dia tidak mengabaikan tugas untuk membantu mempersiapkan keberangkatan adiknya ke sekolah bersama di pagi hari, dan juga bersembahyang bersama di malam hari.

Mereka memang harus dibiasakan dan dibisakan menghadapi berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. Bukankah... pengalaman adalah guru yang terindah yang bisa menghadirkan pembelajaran bagi seseorang, agar tumbuh smakin bijak dari hari ke hari..... Menjadi tua, setiap orang bisa mencapai ini, namun, menjadi sosok yang dewasa dan mampu beradaptasi dengan berbagai situasi hanya akan hadir dari pengalaman yang mereka dapatkan sepanjang hidup mereka.

Mungkin, aku bukan orang tua yang terbaik, namun setidaknya.... aku sudah berusaha memberikan yang baik yang kubisa bagi anak2 ku.....

Gowes ke Renon


Berharap dapat menikmati minggu dengan “Me Time”.. namun si bungsu mengajak gowes. “Dengan rute jauh”, itu pesan khususnya. Hmmm, rada repot... memiliki dua lelaki yang sudah mulai menjejaki remaja. Mereka membutuhkan penyaluran energi yang seolah mengalir tiada henti. Maka, walau rada malas, segera ku bangkit dan bersiap. Dan.... inilah suatu bentuk kecil kasih sayang ibu, sebelum mungkin saja aku tidak diberi kesempatan lagi, menghabiskan sebanyak mungkin waktuku bersama mereka.....

Pagi sudah dihebohkan dengan info, tetangga kehilangan sepeda lipat, seli berwarna cokelat, yang diletakkan di teras rumah mereka. Hmmm, maling merajalela, mencoba melihat peluang dengan melakukan hal negatif. Harus ekstra waspada menjaga keamanan wilayah masing-masing.

Bersama anak tetangga, kami mengarah menuju Lapangan Puputan Renon dengan Monumen Bajra Sandhi, setiap hari minggu disana ada Car Free Renon, dan kini sedang ada Festival Keluarga. Setiap kali bertemu persimpangan jalan, aku turun dan menuntun sepeda. Harus mempertimbangkan anak kecil, yang bahkan belum lagi SD, yang turut bersamaku. Kuatur kecepatan kayuhan pedal, kerapihan dalam berkendara, dan berkali jeda berhenti untuk sekedar minum. Inilah, suatu bentuk toleransi kecil yang membantu kita semua menghindari konflik, dengan menanamkan semangat kebersamaan bagi mereka semenjak dini, kedisiplinan, dan keyakinan, bahwa mereka bisa menjalani semua ujian dan rintangan.

Tiba di lapangan Puputan Renon, kami menyusuri lapangan berkali, mengamati ribuan orang yang berkumpul di sana, dari berbagai kalangan, yang tua dan muda, berbagai komunitas yang turut pula hadir, mulai dari komunitas sepeda tua / onthel, sepeda pixie, sepakbola anak-anak, skateboard dan sepatu roda, toya, pedagang dan pembelinya.

Terdapat pula Perlombaan Permainan Tradisional Anak2 antar Kabupaten se Propinsi Bali. Mengasyikkan mengamati tingkah polah berbagai anak-anak yang didampingi orangtua dan pejabat daerah masing2, hingga tuntas pengumuman pemenang berbagai jenis Perlombaan Permainan Tradisional Anak2.

Terlihat seorang bapak, mendampingi istrinya yang berjalan dengan menggunakan tongkat besi berpegangan. “Ibu baru sembuh dari sakit, dan kini sedang berlatih berjalan kembali” Demikian sahutnya. Hmmm, semoga hubunganku dengan sang mantan pacar, yang adalah bapaknya anak2, suami tercinta, akan se abadi cinta kasih mereka.... Saling memperhatikan hingga tua. Hehehe, memangnya... kini aku belum tua??

Kami sempat berkenalan dengan Jasper, si anjing samonet, yang sedang berjalan bersama dua anjing jenis tipe sama, didampingi tuan mereka. “Sebulan menghabiskan 2 juta untuk makanan khusus anjing” Demikian komentar ibu energik tersebut. Ada pula si Buddy, anjing tipe Labrador yang jinak dan sungguh lucu, sedang mogok jalan dan mengamati orang yang hilir mudik di sekelilingnya. Lalu kami jumpai si kembar anjing Pug, yang membuat majikannya pusing, karena mereka berkeliling tiada henti.

Well,

Aku teringat dengan sahabatku, Maria Rahayu. Penelitian thesisnya mengenai para pedagang kaki lima yang berada di seputaran Lapangan Puputan Renon. Memang... dalam kehidupan akan selalu ada banyak nuansa pelangi yang mewarnai. Pedagang dan pembeli, anak2, remaja dan orangtua, tua dan muda, sehat dan sakit, bersepeda atau pejalan kaki, terburu2 ataupun tanpa arah tujuan, inilah dunia kehidupan kita. Akan jadi apa, bagaimana, dengan cara apa, kita adalah pemegang peranan bagi hidup kita sendiri.

Hidup, tidaklah selalu indah dan semudah seperti impian dan harapan kita. Namun, kita sendiri yang bisa tentukan batasan yang akan membuat hidup kita bahagia.......

Sabtu, 09 Juli 2011

Anak-anakku Nge Galung di Asah Badung




Anak-anakku terkasih..... Kuajarkan pada mereka berbagai bekal tentang kehidupan. Hidup tidak selalu indah dan mudah seperti impian dan harapan kita. Kuajarkan pada mereka tentang perjuangan untuk menjadi pria sejati, bahwa ini lah hidup yang bakal mereka hadapi, bahwa inilah budaya dimana mereka adalah penyunjung dan penyungsung budaya itu sendiri. Bahwa terdapat begitu banyak kearifan lokal yang sungguh jenius yang bakal dapat mereka serap maknanya, tanpa harus mengagung kan ego dan hasrat belaka.

Maka........ Yudha dan Adi nanding banten, ngaturang canang, ngae penjor. Yudha dan Adi nampah siap, negteg be angon lawar dan tum. Ikut arus mudik merasakan euphoria massa dalam gelora semangat merayakan hari raya Galungan.

Maka...... hamparan kebun kopi dan gemericik air pangkung ramah membangunkan di pagi hari, dengan olahan gula bali dari tuak jaka di tungku kayu menghangatkan tubuh dari dingin yang menyapa.

Maka....... mereka harus bersyukur atas setiap berkat Hyang Widhi Wasa yang masih boleh mereka terima di atas semua ini. Karena, keberhasilan dan kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata dari berapa banyak piala dan piagam yang digenggam, atau jabatan dan status seseorang...... Namun dari proses mereka dalam menjalani kehidupan ini, entah dimanapun berada atau ditempatkan.

Jumat, 01 Juli 2011

Adi, Kreator Ulung....















Tahukah anda.... jika jaringan internet nge drop, letakkan tutup panci dalam posisi terbalik, tempelkan di modem, dan jaringan net bakal kuuueennncceng abis. Itu kerja an Adi. Maka, jadilah sebuah parabola mini dari tutup panci.

Tahukah anda... remaja memiliki energi berlipat2, yang terkadang seolah tiada henti. Maka, penyaluran ke arah positif sungguh diperlukan agar mereka tidak salah arah. Dan, Adi adalah sang dinamit itu. Seolah tidak pernah habis segala energinya. Bangun di pagi hari, sekolah hingga pk 2 sore, terkadang masih dilanjut dengan bersepeda bareng adiknya ke pantai, meluangkan waktu untuk membuat rancangan gambar, bongkar pasang mobile phone dan laptop milik teman yg rusak, mengunduh data dan meng install berbagai program.

Hmmm, teringat saat Adi masih duduk di bangku SD. Dia dengan suksesnya membuat komputer kami dua kali jebol, data hilang, dan harus di install ulang. Kuat bersepeda gayung menempuh rute Denpasar - Nusadua pulang pergi. Kepala harus dijahit karena tidak bisa diam, berlarian, hingga terbentur kursi besi di rumah sakit.

Kini dia sudah tumbuh besar. Sudah punya pacar. Hahaha.... yg malu-malu diceritakan pada kami, tatkala sedang duduk berkumpul bersama. Duuh, anakku Adi, Sang Pangeran Sulung. Kepakkan sayapmu terbang mengangkasa menuju langit, anakku.... Wlo langit itu tak selalu biru.

Yudha, Calon Chef Handal




Kamis, 30 Juni 2011. Hari ini, penuh dengan aktivitas. Dari selesaikan tugas mengoreksi hasil ujian akhir semester para murid, memastikan hasil pengumuman kelulusan Pensisba STPNDB, membantu bu Desak bertugas di operator. Dan kemudian bergerak menuju ke kampus Pascasarjana, Program studi Kajian Budaya. Aku ingin mengecek beberapa data di ruang perpustakaan yang ada.

Tiba di rumah pukul 5 sore, kulihat si bungsu Yudha sedang bermain di halaman rumah dengan sepedanya. Adi belum tiba dari sekolah. Walaupun libur, tapi mereka mengadakan berbagai aktivitas di SMAN I Denpasar. Smansa Computer Club (SCC) mengadakan penggalian dana ke berbagai pihak, mulai lembaga pemerintahan, usaha bisnis, dan orang yang dianggap bisa memberikan informasi dan dana bagi aktivitas mereka.

Kukeluarkan berbagai peralatan dan bahan yang ada, mulai dari Oven Hocks, loyang kue, mentega, telur, tepung terigu. Yudha mengambil baskom plastik, menuangkan tepung 0,5 kg, memasukkan sebutir telur, mentega 400 gr, menambahkan keju, dan mulai menikmati mengaduk semua bahan tersebut dengan kedua tangannya.

Setelah bahan selesai diaduk rata, kami asyik menggilingnya menjadi potongan kecil, dengan bantuan pisau lalu memotong menjadi potongan kecil, dan meletakkan di atas loyang. Kemudian siap untuk dipanggang.

Jadilah..... kue unyil ala Yudha. Ehm.... Dia kelak bisa menjadi Chef handal bila bersungguh menekuni minatnya di bidang kuliner ini.

Rally Bhayangkara









Hanya dengan berbekal info sekilas dari papan pengumuman besar di pinggir jalan Renon, kuberanikan diri menyusun rencana rally sepeda bareng anak-anak. Bakal ada rally sepeda dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara. Maka, Yudha berkeliling mengumpulkan para sahabatnya se perum, terdapat beberapa anak yang tertarik untuk ikut rally yang diadakan dalam rangka memperingati hari Bhayangkara tersebut. Ada Komang Esa, Dewa Angga, dan yang lainnya lagi. Kucoba merayu Danendra untuk bergabung dengan kami, bertanya pada Ardi dan Kadek Susi, hingga meminta Dek Tut untuk ikut. Hingga malam hari tiba, kudapat informasi, Ibu Dayu Puspadi beserta Bpk Gung Suprastayasa bakal ikutan pula, bersama Gung Wipa & Gung Bagus.

Minggu, 26 Juni 2011. Pk 5 pagi sudah terjaga dan mengawali hari dengan kehebohan mempersiapkan bekal. Mobil pickup yang kusewa bakal tiba pk 5.30. Kuperkirakan, kami bakal tiba di lapangan Puputan Renon pk 6.00, dan bisa bersiap sebelum rally dimulai pada pk 6.30. Namun ternyata si bapak supir telat bangun, ibu Dayu juga baru terjaga pk 6 pagi. Hehehe...... Hidup memang harus penuh kesiapan terhadap berbagai situasi dan kondisi yang mungkin berubah, karena... bukankah, hanya perubahan itu sendiri yang abadi.

Pk 6 pagi mobil pickup sewaan tiba, kami naikkan sepeda beraneka bentuk dan merek, dari sepeda bekas hingga sepeda yang baru dibeli seminggu lalu. Aku duduk di samping pak supir bersama Kadek Susi, sedang anak-anak yang lain menumpang di mobil ibu Dayu, di dalamnya juga ada Pak Gung Suprastayasa, Gung Wipa dan Gung Bagus, Adi dan Yudha, juga Gek Tata.

Pk 6.45 kami tiba di lapangan Puputan Renon, hmmmm, kulihat sudah ada ribuan orang berbaris dengan sepeda masing-masing di garis start. Baru 10 menit kami di sana, rombongan bergerak perlahan. Kami susuri jalan mengarah ke jl. Diponegoro, menuju ke lapangan Puputan Badung, masuk jalan Veteran, lalu menuju Art Center di jl. Nusa Indah. Berbelok ke kiri lalu kembali ke lapangan Puputan Renon.

Lumayan juga perjalan yang kami tempuh kali ini. Menanamkan semangat untuk tidak gampang menyerah pada anak-anak kami. Semangat kebersamaan, berkumpul dengan ribuan orang lain. Semangat toleransi, bahwa hidup bukan hanya sekedar berkutat pada menang atau kalah, kuat atau lemah seseorang, waktu tempuh, dan hebatnya penampilan seseorang, namun pada proses menjalani kehidupan itu sendiri. Bahkan, panitia yang hanya menyediakan 5000 tiket bagi peserta rally, lumayan kewalahan, karena ternyata peserta membludak hingga mendekati 10.000. Tapi inilah dunia, setiap orang mau tidak mau diminta melakukan adaptasi dan asimilasi dengan berbagai aspek kehidupan. Karena, inilah sebenarnya tujuan kita ada di dunia.

Pukul 10.00, setelah menikmati makan siang dan bekal yang kami bawa dari rumah, kami kembali pulang dengan mobil ibu Dayu dan Pak Gung Suprastayasa, juga mobil pickup yang kusewa, namun kali ini penumpang di mobil pickup bertambah dengan adanya Adi, Yudha dan Gung Wipa yang bersikeras untuk duduk di bagian belakang pickup.

Adi & Yudha











Anak2ku Terkasih
Mencintai kalian....... terkadang begitu gampang dengan membiarkan rasa itu hadir, tanpa berpura-pura menekan segala emosi dan kehendak menguasai kalian. Cintaku akan selalu menemani setiap jejak langkahmu, takkan pernah berpaling walau sedetikpun. Meski terpisah rentangan jarak ruang dan waktu yang membuat kita kadang terlena
Terkenang saat kalian hadir di tengah kami

Wayan Adi Pratama, 1 Juli 1996. Remaja pria yang gagah berani, calon dokter yang senang bongkar pasang mobile phone, laptop, juga programmer dan desainer grafis. Jadilah tiang keluarga yang mampu tegakkan dharma dalam setiap jejak langkahmu. Sulung adalah pioneer, perintis, pemimpin, pengarah bagi anggota keluarga yang jadi tanggungjawabmu kelak. Ketika mimpi-mimpi, bahkan harapan, kian terpentang menjauh dan sukar diraih, jangan pernah biarkan dian semangat jadi runtuh. Jangan biarkan terkubur segala cerita cinta dan citamu......

Made Yudhawijaya, lahir dengan operasi caesar, 15 Mei 2003. Anak lelaki kekar yang terkadang manja dan senang menggoda. Jangan pernah biarkan kemalasan membelenggu semangat kreativitas, karena yakinlah, dikau mampu wujudkan tiap harapan dan kemampuan menjadi hadir nyata. Biarkan semua mengalir lancar bak hembusan angin semilir penghantar tidurmu. Beri arti pada setiap detik alunan kehidupan, jangan biar berlalu begitu saja.....

Anakku, mungkin mama bukan ibu terbaik yang bisa hadirkan setiap mimpi kalian nyata. Tak bisa selalu ada saat kalian butuh genggaman tangan. Namun cinta kasih mama akan selalu temani kalian, bahkan di tidur dan mimpimu, hingga terjaga kembali.....