Jumat, 23 September 2011

Anakku Yudha......


Kamis, 22 Sept 2011. Hari kedua bagi anakku, Yudha, kembali bersekolah setelah seminggu ijin demi tuntaskan upacara Ngaben bagi bapakku di Batuaji, Kerambitan, Tabanan. Dia setengah memohon untukku mengantarnya ke sekolah. Hmmm, okelah. Toh aku juga harus menemui ibu guru wali kelas, ibu Gung Dewi, menjelaskan tentang ijin tidak bersekolah bagi anakku, menyerahkan foto dan data diri anakku bagi proses pembuatan struktur kelasnya.

Tiba di depan kelas empat B, kutinggal dia, kutemui ibu guru wali kelas. Setelah urusan tuntas, ku pamit pada anakku untuk meninggalkannya. Yudha anakku mulai cemberut, merunduk dengan wajah sedih, lalu menangis. Ah.... dia yang selama ini selalu tabah, persiapkan sendiri segala peralatan sekolahnya, kini menangis sedih dan merjauk karena tidak ingin ditinggalkan.

Tuhan.....
anakku butuh kehadiran dan bimbinganku.... Hatiku trenyuh. Aku yang seorang psikolog, tamatan Universitas Gadjah Mada tahun 1993..... Aku yang seorang dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, tenaga pengajar, dengan ribuan mahasiswa, dan telah meluluskan ribuan mahasiswa pula...... Aku yang memiliki beberapa anak asuh, dan sering menjadi tempat curhat bagi banyak orang..... Kini, anakku membutuhkanku. Kubatalkan rencana untuk pergi bekerja, masuk ke STPNDB.

Setelah seminggu dia tidak masuk sekolah.... dengan begitu banyak tunggakan tugas yang belum diselesaikannya, dengan ketakutan bila ditunjuk untuk maju ke depan kelas oleh ibu guru, dia kini sedang dalam situasi dilema, stres, tegang, takut, sedih, merasa tidak berdaya...... Kugenggam tangannya, kukuatkan hatinya, agar dia tabah dan siap menghadapi segala kemungkinan..... Kupeluk dia, ah.... jiwanya sedang rapuh.

Tiap orang adalah pribadi yang unik. Suka duka, lara pati, semua di tangan Hyang Widhi, namun kita patut berusaha sekuat tenaga agar menjadi pribadi yang tegar dan tabah menjalani dinamika kehidupan. Akan kuserahkan segala yang kumampu demi buah hatiku ini..... namun dia juga harus berusaha menjadi pribadi yang bijak dan kian dewasa, meski kini umurnya baru 8 tahun.

Berbagai aktivitas yang kujalani akhir2 ini, sungguh telah menyita perhatian dan waktu, juga tenaga dan ruang hari-hariku.... kini aku harus konsentrasi pada si bungsu, sebelum dia menjadi pribadi yg minder karena stres yg dialaminya. Kutemui kembali guru wali kelasnya, memohon ijin untuk mengajak Yudha kembali ke rumah. Kupeluk dia, dengan membisikkan kata-kata, kami berdoa bersama, lalu dia jatuh tertidur.

Dia terbangun dan terjaga dari tidurnya satu jam kemudian. Kami makan bersama, dan aku pamit padanya untuk sebuah tujuan lain. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Aku ingin beranjak menuju Bitra, Gianyar. Mertua Komang Mahayani, ponakanku yang tinggal bersama suaminya di Pontianak, akan dikuburkan hari ini pukul 12 siang. Suami sedang bertugas dalam rangka DIES Fakultasnya, maka aku pergi sendiri kali ini. Maka kukenakan pakaian kebesaranku, lengkap dengan berbagai perlengkapan lainnya, dan mengarahkan laju motor menuju setra Bitra......

Kamis, 22 September 2011

Living a Life That Matters



Living a Life That Matters



Ready or not, Someday it will all come to an end....

There will be no more sunrise. No minutes, hours, or days.....

All the things you collected, Whether treasure or forgotten,

Will pass to someone else....

Your wealth, fame, and temporal power,

Will shrivell to irrelevance....

It will no matter what you owned,

Or what you were owed....

Your grudges, resentments, Frustrations, and jealousies,

Will finally disappear....

So, too..... Your hopes, ambitions, plans, and to do lists,

Will expire.....

The wins and losses at once, Seemed so important,

Will fade away......

It won’t matter, Where you came from,

Or on what side of the tracks,

You lived, at the end.....

Life isn’t about finding yourself, Life is about creating yourself.

Trough each day, our goal is.....

To touch one’s heart,

To encourage one’s mind,

And, To inspire one’s soul,

May you continually be blessed,

And, be a blessing to others.......

Kamis, 08 September 2011

Pesan buat Anakku yang lagi gundah, juga bagi orang lain, dan diriku sendiri


Kehidupan dan segala pernak-perniknya tidak selalu indah dan semudah seperti yang kita harapkan serta kita impikan, anakku sayang.... Jalan ini terkadang terjal dengan segala lika-likunya.

Putus cinta, banyaknya tugas sekolah, jadwal kegiatan penuh sepanjang hari, rekan sahabat dan keluarga yang terkadang penuh dinamika mengisi hari-hari..... Jangan pernah mementahkan semangat untuk tetap terus melangkah.

Hidup selalu dengan penuh motivasi untuk menjalani hari-hari. Wlo mama dan bapak tidak bisa mendampingi sepanjang hidupmu. Jadilah pembimbing bagi adik dan orang lain. Teruslah tumbuh dan berkembang menjadi pria dewasa nan bijak. Gagal dan salah yang ada, jangan membuatmu menjadi minder dan gundah, karena masih banyak kesempatan lain yang bakal kau genggam di tangan. Terjatuh berkali, maka bangkit berkali dan berkali.... masih ada yang membutuhkan perhatianmu dan menghargai kita.

Hargai orang lain, dan segala yang ada di dunia. Se kecil apa pun peranan mereka, dunia tetap bagian dari sisi hatimu yang pernah dan akan hadir dalam hari-hari yang ada......