Minggu, 16 Oktober 2011

Kasih Ibu...

Minggu, 16 September 2011, rencana memenuhi janji menghantar anakku berenang. Kupersiapkan laptop dan perbekalan yang bakal kubawa ke Nirmala. Kuhubungi Bu Dayu, sahabat dan juga rekan kerja ku di STPNDB. Dia juga sekaligus tetanggaku. Minggu lalu aku mengajak anaknya untuk bergabung bersama anakku dan satu anak lain untuk menikmati hari libur bersama.

Ternyata Gung Wipa, putera ke dua bu Dayu, terserang penyakit cacar air. Hmmm. Kasihan keluarga mereka. Bu Dayu harus berangkat pagi hari ke Gianyar. Suaminya sudah semenjak dua hari lalu berada di sana. Nenek suaminya meninggal, dan rencananya keesokan hari akan di aben. Di tengah segala kesibukan ini, dua anaknya terserang cacar air, sehingga terpaksa ditinggal di rumah di Denpasar. Bisa kubayangkan.... betapa repot dan menyedihkan, harus membagi konsentrasi dan emosi di antara berbagai ujian hidup ini.... belum lagi termasuk dengan kesibukan mengajar di kantor....

Sering pula kurasakan hal yang demikian..... Anak sakit, harus berjuang memilih, antara kerja, kuliah, atau pengorbanan demi menjadi seorang ibu.

Ah, anakku, dan juga, berjuta anak lain di dunia.... Jika ibu kalian, dan, ada orang yang kalian panggil sebagai "ibu", bahkan, orang yang tidak kalian kenal sekalipun.... hargai perjuangan mereka untuk hadirnya kalian di dunia ini, membuat diri kalian menjadi sungguh berarti....

Jumat, 07 Oktober 2011

Adi Anakku Ikut Olimpiade Teknik















Adi anakku sayang... Kita sukses bukan karena kemenangan atau rentetan jabatan yang melekat. Namun karena perjuangan dan proses dalam menjalani tiap tantangan, cobaan dan rintangan yang membentang.

Jadilah pria dewasa nan bijak, bukan pengecut dan manja, dalam meraih setiap cita dan harapan yang kau gelar di dada. Semangat untuk selalu bangkit berkali dan berkali..... Maka, walau lelah dan duka melanda jiwa, jangan mundur, anakku, jangan malu dan ragu pada dirimu.

Tumbuhlah se cerdas bapakmu, membimbing adik dan keluarga. Berkembanglah se tangguh emakmu (Ehm... sombong kaleee). Semoga kasih dan berkah Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa menemani tiap jejak langkahmu, anakku....

Mother & Child


In the human experience, the relationship between a mother and her child is the closest to compassion (Prashant).

People call it love but it should not be called love. It is more like compassion than love because it has no passion in it. A mother's love for the child is closest to compassion. Why? Because the mother has known the child in herself; he was a member of her being. She has known the child as part of herself and even if the child is born and is growing the mother goes on feeling a subtle rhythm with the child.

If the child feels ill, a thousand miles away the mother will immediately feel it. She may not be aware of what has happened but she will become depressed; she may not be aware that her child is suffering but she will start suffering. She will make some rationalization about why she is suffering - her stomach is not okay, she has a headache, or something or other - but now depth psychology says that the mother and the child always remain joined together with subtle energy, waves, because they go on vibrating on the same wavelength.

The telepathy is easier between a mother and the child than between anybody else. Or, between twins - between twins telepathy is very easy.