Minggu, 27 November 2011

Mimi, Pipi, dan Puyu

Mereka hanyalah binatang….

Namun mewarnai hari-hari di tengah berbagai aktivitas kehidupan keluarga kami sehari-hari….

13224054441557279765

Mimi adalah anak anjing kecil berusia dua bulan yang kutemukan di depan pasar dekat rumahku. Pipi adalah anak anjing berusia 4 bulan yang juga kami temukan di jalan, namun sudah di vaksin. Puyu adalah seekor monyet pemberian iparku bagi anak2ku.

Mereka hanya dari jenis lokal, binatang biasa. Sering bermain bersama, kami mandikan, kami beri makan, dan kami perhatikan pula aktivitasnya sehari-hari.

1322405770806817674

Sudah beberapa pasang sepatu dan sandal menjadi korban kenakalan mereka. Tetaplah, binatang yang jenaka dengan segala kejahilan mereka pula.

13224059172054402582

Sudah seminggu Mimi lumpuh layu secara mendadak.

Dokter hewan yang kutelpon untuk segera datang, mengatakan… sudah terlambat untuk menyembuhkannya. Maka, yang bisa kami lakukan adalah merawatnya.

13224063651474486992

Bergantian anak-anakku memberinya minum, mendekatkan makanan ke mulutnya. Simbok memindahkannya ke dalam rumah jika malam tiba. Kami memberinya alas untuk tidur agar tubuhnya tetap hangat.

1322406594684096096

Namun kini Mimi sudah tidak kuat mengangkat kepalanya lagi. Hmmm, trenyuh melihat kondisinya begitu…..

Apa pun yang terjadi, tersenyumlah Mimi……. Hidup mungkin tidak indah bagimu, tidak semudah yang dikau bayangkan tatkala lahir ke dunia. Namun kami akan selalu membantumu, sebisa yang kami lakukan. Smoga kamu berbahagia selalu……

13224071061318817439

Jumat, 18 November 2011

Pernahkah anda merasa sendirian dan tiada berdaya??



Mimi namanya. Anak anjing kecil mungil ini baru berusia 2 bulan. Kutemui di jalan raya dekat pasar, sedang digonggong oleh induknya sendiri yang tidak suka diikuti. Setelah bertanya pada beberapa orang dan meyakinkan bahwa tidak ada pemiliknya, kugendong dan kubawa pulang ke rumah.

Bapaknya anak2 sempat protes keras dan minta untuk kembalikan lagi anak anjing mungil ini di dekat pasar. "Ngapain ngambil anjing cewek?! Nanti repot ngurusnya, runyam, repot, semua diberantakin". Namun.... satu lawan tiga, ya kalah lah.... Anak-anak sungguh senang punya tambahan anak anjing.

Putra bungsuku memberinya nama panggilan Mimi. Kami sudah punya anak anjing yang berusia 4 bulan. Cowok, dan diberi nama Pipi. Dahulu kami pernah punya anjing 7 ekor. Mereka semua bukanlah anjing jenis ras, hanya anjing biasa, namun sungguh.... mewarnai hari-hari dalam kehidupan kami sekeluarga. Lalu kemudian wabah Parvo melanda. Hmmm, dokter hewan yang rajin mem vaksin mereka di rumah kami selalu mewanti.... Parvo adalah penyakit yang lumayan parah bagi anjing. Jarang sembuh jika sudah terserang sakit tipe ini. Dulu pernah anakan anjing kami sampai opname di tempat dokter hewan, diberi infus untuk membantunya pulih.

Si Mimi sungguh lucu, dia senang berlari kian kemari, menerobos ke kolong meja, masuk ke semak taman dan menyalak dengan suara kecil melengking bila kami tiba. Saat malam tiba, dia tidur beralas keset di depan kamar mandi. Ikut terjaga setiap ada anggota keluarga yang melewatinya.

Dan, Jum'at sore, 18 November 2011, dengan tubuh letih setelah seharian ikut workshop bersama suami, juga anak yang nempel gak mau lepas, kami tiba kembali di rumah. Setelah dua minggu dia tinggal bersama kami, dengan gerak ceria tiada hentinya, kami dapati dia tergolek lemah.

"Mimi gak bisa berdiri, kakinya lumpuh" Ujar Ayu, simbok. Hmmm. Ada apakah gerangan??? Segera kutelepon dokter hewan, dr. Made Sunada, yang mantan murid bapak. Istrinya, yang juga seorang dokter hewan, menerima teleponku. Beliau menyampaikan pesan, bahwa, mungkin saja, seekor binatang mengalami lumpuh layu, dan, sudah terlambat untuk melakukan vaksin ini.

Hmmm, sungguh kasihan dia. Hanya seekor binatang, anjing yang kecil mungil..... namun tetaplah mahluk ciptaan Tuhan pula. Maka, kami bersama merawatnya, kumandikan dan ku lap tubuhnyam anak sulung ku mengangsurkan minuman dalam piring plastik kecil, si bungsu memberikan nasi putih bercampur sedikit pindang. Pipi, anak anjing jantan yang kini berusia 4 bulan, menunjukkan kepedulian dengan menjilati badan basah Mimi yang baru habis kumandikan. Dia tetaplah anjing peliharaan kami.

Pernahkah anda merasa begitu sendirian? Ditinggalkan kerabat dan para sahabat, merasa tidak berdaya karena tiada yang peduli dan membantu untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Ah..... inilah sesungguhnya yang membuat kita mati perlahan. Sayangi diri sendiri dengan menyayangi mahluk lain, hargai diri sendiri dengan menghargai mahluk lain........

Renungan di hari Saraswati.......

Renungan di hari Saraswati...... smoga kita semakin bijak dan dewasa dari hari ke hari, dalam mengarungi bahtera kehidupan di samudera hidup nan luas ini......

Senin, 07 November 2011

Adi Anakku dan Bhaktinya di Jalan Dharma....


Dua hari lalu, anakku mengangsurkan sejumlah uang.





10 lembar Rp 2.000 an, 13 lembar Rp 1.000 an,

3 lembar Rp 10.000 an, 10 lembar Rp 5.000 an,

8 lembar Rp 50.000 an, dan 1 lembar Rp 100.000 an.


"Ma, ini uang tambahan sebagai hasil dari menjual desain gambar yang Adi bikin".

Ujarnya.....


Hmmm, ini sebagai sebuah upaya dan proses menjadi wirausahawan muda.

Belajar sepanjang kehidupan.


Apapun itu, anakku.....

Hidup tidak selalu mudah dan seindah yang kita harapkan.

Takkan kujanjikan padamu....

Bahwa bapak dan emak bakal selalu ada

mendampingi di s'tiap jejak langkahmu.....


Namun, teruslah tumbuh dan berkembang,

menjadi pria dewasa nan tangguh,

menghadapi segala tantangan dan rintangan,

bijak dan arif di jalan Dharma......

Selasa, 01 November 2011

Waktuku bersama Anak2.....


Tiba di rumah dari kantorku, sehabis mengajar..... waktu menunjukkan pukul 12.30. Ayu, simbok yang bertugas menjaga rumah, terlihat sedang menyeterika baju. Aku duduk di ruang tamu, kunanti bos kecil ku tiba dari sekolahnya. Dia baru duduk di kelas 4 SD. Aku ingin mengajaknya pulang kampung, menemui Dewa Niyangnya, adik kandung bapakku, di desa Batuaji, Tabanan, Kerambitan.

Saat kami saling berboncengan, dengan Yudha duduk di depanku, langit sudah terlihat mendung. Kueratkan kancing baju jaket yang dikenakannya. Dia terlihat gagah dengan kaus kaki lengkap, mengenakan topi dan kaca mata hitam pelindung mata dari sinar dan debu jalanan.

Memasuki jalan raya Dalung, hujan turun semakin deras. Baru kusadari hanya membawa satu jas hujan. Ah, aku perlu satu jas hujan lagi demi anakku. Maka, aku berhenti tepat di depan sebuah toko yang menjual jas hujan. Membeli sebuah jas hujan murah. Rp. 25.000, yang termurah yang mereka jual. Kukenakan pada anakku, sedang aku sendiri mengenakan jas hujan yang memang kubawa dari rumah. Kami bergerak melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan raya Abian Base, menuju ke Pura Sadha, dan tembus ke jalan raya Kapal, Sempidi. Hujan lebat bagai dicurahkan dari langit. Angin kencang terasa di sepanjang perjalanan. Ah..... aku harus rehat sejenak.... Maka, kupilih sebuah supermarket untuk tempat kami berteduh dari hujan angin yang menemani perjalanan kami....

Yudha, putra bungsuku. Dia dan juga kakaknya, sudah berkali-kali mengiringi perjalananku dengan berkendara motor. Kami memang hanya memiliki sepeda motor. Semenjak kecil, bahkan, semenjak masih berusia dua bulan, baik Adi maupun Yudha, sudah terbiasa menempuh perjalanan jarak jauh dengan berkendara motor, di tengah terik matahari, maupun di tengah siraman hujan.

Mungkin, orang berpikir, kami adalah orang tua yang kejam. Namun, hanya ini yang bisa kuberikan pada keluargaku. Dan.... lagipula, masih jauh lebih banyak orang yang menderita selain kami. Hmmm, biarlah, semua bergulir bagai air mengalir menyelusupi sisi kehidupan, dan mereka yang akan menilai siapa, apa, dan bagaimana sesungguhnya sendi-sendi kehidupan, dan belajar menjadi pria-pria dewasa nan bijak dari hari ke hari.......

Tiba di Batuaji, Yudha langsung minta makan. Dia membuka abon ayam yang tadi kami beli sebagai oleh2 di supermarket di Jalan Raya Sempidi. Berkeliling melihat situasi di sekelilingnya, dan asyik mengamati anak anjing yang sedang berlarian. Well, ada dua keluarga yang harus kami kunjungi. Satu adalah Dewa Aji Suagiman yang akan menikahkan dua anaknya sekaligus pada hari Jum'at nanti. Satu lagi adalah anaknya Dewa Kakeyang Kaler, yang akan melangsungkan upacara potong gigi. Maka, demi menghemat waktu, segera kami mengunjungi kedua anggota keluarga besar Jroan Batuaji tersebut, yang rumahnya terletak di Kangi / Timur.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 tatkala kami pamit untuk kembali ke Denpasar. Langit cerah sehabis hujan menyambut ramah. Yudha terlihat segar, tanpa merasa lelah setelah seharian beraktivitas, sehabis sekolah langsung kuajak pulang kampung.......

Di pinggir jalan raya Sempidi, kami temui pedagang buah durian. Hmmm, kali ini, keluarga ku yang di Denpasar, perlu mendapatkan oleh-oleh. Maka, tawar menawar berlangsung seru.... sebelum akhirnya tiga buah duren matang berpindah ke atas motorku. Yudha berkali berkata, bahwa dia akan segera mencicipi duren bersama bapak dan kakaknya, begitu tiba di rumah nanti. Ah ha.... seorang pengendara motor melintasi sisi kiri dan berteriak "Bu !! Durennya jatuh !! " Wah..... terpaksa kupinggirkan motor, menurunkan Yudha, dan meliuk-liukkan tubuh ditengah ramenya kendaraan yang melintasi jalan raya Sempidi, demi sebuah guren yang dengan gagahnya berlari kian kemari....

Bersyukur, duren kudapat kembali, tepat dengan berhentinya sebuah truk angkutan barang yang supirnya berbaik hati menghentikan laju kendaraan, sebelum bannya melindas duren. Segera kutangkap si duren bandel, mengikatnya di bagian depan motor, dan kembali melanjutkan laju deru motorku menuju rumah. Hmmmm. Home sweet home, aku pulang....

Acara tuntas ???
Belum....... Rambut ke dua anakku ini sudah gondrong. Maka, perlu teknik rayuan, agar bisa memotong cepak rambut-rambut mereka.

Setelah tuntas acara bersembahyang bersama, maka kuajak kedua anakku keluar. Well, si sulung perlu tambahan pulsa yang harus dibeli di warung PakBujang, si bungsu ingin sepasang es krim tongkat. Maka, laju motor keluar dari rumah bersama mereka, segera kuarahkan ke tukang cukur rambut langganan kami. PakGede. Pertama adalah Adi, kedua giliran si bungsu Yudha, dan terakhir, aku sendiri. Hahaha..... PakGede ini adalah langganan kami sekeluarga. Dan... aku memang mencukur rambut di tukang cukur rambut pria. Ehm... lebih sreg jika tukang cukur rambutnya adalah pria. Wanita? Bukannya aku antipati, namun, gak sreg saja.....

Maka, tiba kembali di rumah satu jam kemudian, acara makan malam bersama dimulai...... suami menyuapi si bungsu yang kumat manjanya..... sedang aku, menyuapi si sulung yg juga sedang kumat manjanya. Jadilah kami..... menikmati acara makan malam sederhana dengan saling bersuapan. Hmmm....

Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa.......
Terima kasih atas segala anugerah yang telah boleh kami nikmati. Sungguh, kebahagiaan kecil ini, tak ingin kugadai dengan apa pun lagi. Aku ingin bertekuk lutut selalu, memuja dan memuji Mu. Beri aku waktu untuk buktikan cinta kasihku........