Jumat, 30 Desember 2011

Tahun Lama dan Tahun Baru bersama Laskar Pelangi.


































Tahun baru....
Bagi sebagian besar orang, berarti perayaan dengan bersuka cita. Bagi orang lain, mungkin adalah refleksi perjalanan dari tahun-tahun yang berlalu. Dengan sgala nuansa yang mewarnai, suka duka, lara pati.....

Tak ingin kubiarkan mereka melalui setiap momen dengan begitu saja tanpa kebersamaan dan kreativitas mereka sendiri, apa lagi dengan membiarkan mereka berkeliaran di jalanan tanpa arah tujuan pasti, maka, selalu kuingatkan mereka untuk mengembangkan berbagai ide / inisiatif dalam menggalang kebersamaan, meski secara sederhana.

Mereka adalah generasi muda, generasi penerus bangsa.... Pada mereka kutitipkan masa depan negeri ini. Kedamaian tercipta di dasar hati, harus dibentuk sedari dini, semenjak kecil, dari lingkungan kita sendiri.

Dari sejak dua minggu lalu sudah ramai terdengar letusan mercon, kembang api, dan meriam bambu. Sejak di pinggir kota, sepanjang jalan yang sering kulalui menuju kantor, bahkan termasuk para anak tetangga ku sendiri.

Biasanya kukumpulkan anak-anak yang ada di perumahan, sejak sebulan sebelum malam pergantian Tahun. Kami memilih tarian, dan berlatih bersama, bisa pada hari Minggu, atau hari-hari lain yang kami tetapkan bersama. Modalnya? Hmmm, cukup laptop ku, dan sound system sederhana. VCD tari Bali, mulai dari Tari Pendet, Tari Sekar Jagat, Tari moderen yang mereka rancang sendiri dengan berbagai lagu pilihan, Lagu-lagu yang sedang populer untuk dinyanyikan mereka bersama. Bila terkumpul cukup dana, kami menyewa seperangkat alat band.

Bagaimana dengan konsumsi? Hmmm, terkadang para ibu ikut berperan serta, memberi sumbangan berbagai makanan yang mereka olah. Ada yang menyumbang nasi, ada yang menyumbang telor, ada yang menyediakan lauk pauknya, ada yang memberikan minuman. Semua berjalan secara spontanitas, tanpa memandang asal daerah, ras atau agama. Kami berkumpul bersama, duduk di jalan yang dijadikan area titik berkumpul oleh para anak se perumahan ini.

Dua tahun lalu, mereka menyusun acara bakar ikan bersama. Tahun lalu dengan bermain dan bernyanyi bersama, dengan berbagai lomba. Tahun ini, dengan kebersahajaan.... makan nasi kuning dan berbagi hadiah jelang tengah malam. Mereka mengawalinya dengan gerakan bersih-bersih di aula pertemuan perumahan kami, lalu pulang mandi dan bersembahyang bersama. Pukul 7 menikmati bubur ayam telor bersayur dengan sambel tomat dan kecap manis. Bermain dan bernyanyi bersama. Diskusi mengenai suka duka dan rintangan di tahun 2011 ini, harapan dan tantangan di tahun yang akan datang. Hingga jelang larut malam, menikmati nasi kuning, lalu acara berakhir dengan pesta kembang api.

Well.....
Mungkin kami tidak se beruntung orang lain yang bisa merayakan pergantian tahun secara mewah, dengan candle light dinner di hotel berbintang dan bepergian ke tempat terkenal se antero dunia. Namun kami adalah Laskar Pelangi yang memiliki sejuta impian dan harapan bagi masa depan kami semua.... Dengan berbagai nuansa pelangi kehidupan yang telah ditemui bertahun lalu, semoga kami semua bisa menjadi pribadi-pribadi yang kian bijak dan dewasa dari hari ke hari, karena damai di mulai dari hati sendiri, dan dari rumah dimana kami tinggal, bersama dengan orang-orang terdekat di sekeliling kami.....

Learning is a journey, honey... not a race.























Pagi dini hari terjaga.... Jum'at 30 Desember 2011. Kupersiapkan segala berkas bagi pendaftaran ujian Kualifikasi rancangan Disertasiku. Pagi ini harus ke bank melakukan pembayaran SPP semester 4, lalu kemudian menyetor berkas copy kuitansi pembayaran, copy persyaratan kelulusan tes TOEFL dengan skor di atas 500.

Hufttt..... sungguh morning crazy. Pagi sudah mulai terlihat tanda2 nya... bahkan, copy kuitansi semester lalu yg sudah kupegang, bisa linglung kudibuatnya, terjatuh entah dimana. AAArrgh.

Nekat dengan tetap berangkat ke bank Mxxxiri, sambil ku telpon pak Abdul Wahid, teman seangkatan yang memintaku untuk mendaftarkan ujian Kualifikasinya, karena dia sedang dalam perjalanan ke Bima, untuk mengumpulkan data awal bagi penelitiannya. Masalah selesai? Ah ha, belum..... Karena tutup buku kas jelang akhir tahun, pengambilan dana di bank dibatasi, dan, aku tidak pernah bawa buku rekening bank, hanya bermodal ATM. Sedang kini aku perlu dana 7,5 juta. Untung teller Ayu sungguh membantu. Bisa dilacak dari kartu ku, dengan konfirmasi beberapa data, dana bisa ditransfer antar nomer rekening, karena toh dari satu bank sama, ke nomer rekening Rektor Unud.

Payahnya lagi, aku lupa akan nomerku sendiri. Dan... saking paniknya, aku bahkan lupa di dalam ransel Doraemonku di bahu, terdapat daftar nama beserta nomer induk mahsiswa S3 Program Pascasarjana Program Studi Kajian Budaya Universitas Udayana. Sekali lagi kuhubungi Pak Abdul Wahid. Aku hanya perlu menyesuaikan dengan 2 angka terakhir yang merupakan nomer induk mahasiswaku, 03.

Tuntas di bank, aku ke Gedung Prof. Bagus di pascasarjana Kajian Budaya. Kujumpai pak Ketut, Bu Ari, Bu Agung, yang membantuku menyelesaikan urusan administrasi sebelum ujian Kualifikasi. Hmmm, kulirik jarum jam di tembok, pukul 9.30. Aku harus pulang ke rumah.

Tiba di rumah, kutemui kedua pangeran ku, sedang menikmati soto yang baru mereka beli di pasar. Semangkuk soto, dua piring nasi, dan botol kecap manis di samping mereka. Simbok sudah selesai masak, namun mereka selalu mempunya ide dan kreativitas sendiri. Adi yang baru tuntas melaksanakan tugas dari SCC di Smansa pagi ini, juga si bungsu Yudha, ingin makan soto. Hmmm, anak-anakku terkasih. Semoga kebersamaan ini selalu menyertai kami selalu, entah dimanapun kami berada kelak, dengan perjalanan hidup akan akan terus bergulir.....

30 menit kemudian, aku bersama Yudha, putra bungsuku, sudah meluncur, menyusuri jalan raya. Kali ini kami mengarah menuju ke Nusa Dua. Acara berkumpul bersama dengan seluruh dosen dan pegawai STPNDB. Ransel tersampir di bahuku, di dalamnya ada journal terbaru Balai Kajian Sejarah dan Benda Tradisional, dengan karya tulisku beserta bu Tri Ariani di dalamnya. Yudha duduk di depan, mengenakan jaket lengkap dengan topi dan kacamata hitam. Kedua anak ku sesering mungkin kulibatkan dalam berbagai kegiatanku. Bila mereka tidak ada kesibukan sekolah, dan bisa kuajak serta.

Inilah perjalanan hidup..... Selaku seorang wanita, seorang pekerja yang dosen, seorang istri, dan seorang ibu...... akan selalu belajar di mana pun, kapan pun, dari siapa pun, dan, dengan cara bagaimana pun, karena, "Learning is a journey, not a race"

Hingga pukul 12.30 kami berada di lingkungan kampus STPNDB, sebelum akhirnya kembali pulang. Kumenangkan hadiah uang tunai 200 ribu rupiah. Lumayan untuk bekal ber akhir tahun baru. Astungkara Hyang Widhi.

Tuntaskan acara hari ini? Belum....
Aku masih harus menemui Prof. Aron Meko Mbete di rumahnya. Tadi pagi kutelpon beliau dan minta ijin untuk bertemu. Aku ingin menuntaskan nilai bagi mata kuliah yang kami ikuti. Kapita Selekta Multikulturalisme. Ahhhh, sungguh sebuah ujian kesabaran. Maka, segera kuarahkan laju motor menuju Jalan A Yani Utara, masuk ke perum dosen di jalan Tunggul Ametung, mencoba menelusuri dan menemukan rumah di gang III B nomer 4 itu. Dan, menunggu lumayan lama hingga simbok berhasil menemukan kunci gembok yang tepat bagi pintu gerbang. Eh hehehe.....

Baru kusadari, Prof. Aron merayakan Natal, dan aku bahkan tidak membawa apa pun bagi mereka, tapi disuguhkan kue dan minuman, sambil melangsungkan proses bimbingan..... Eh hehe. Enjoy saja lah. Proses akan selalu terjadi di sekeliling kita, bahkan, terkadang, tanpa kita sempat bersiap diri untuk belajar pada saat yang bersamaan.

Tiba saatnya pulang ke rumah. Akhirnya..... waktu makan siang pun tiba. Astungkara.... pukul 15.00 baru makan tanpa sempat sarapan tadi pagi. Anak2 dan suami melanjutkan tugas dengan proyek mereka masing-masing di halaman, aku merebahkan tubuh sejenak, tidur....

Valentino bilang: Menjadi seorang ibu yang sempurna memang tidak mudah apalagi menurut ukuran orang lain. Namun tetaplah berusaha menjadi yang terbaik untuk anak-anak anda.

When you are a mother, you are never really alone in your thoughts. A mother always has to think twice, once for herself and once for her child
. (Sophia Loren, Women and Beauty)

Rabu, 21 Desember 2011

Child by Freddie Aquillar


When you were born into this world
Your mom and dad saw a dream fulfilled
Dream come true
The answer to their prayers

You were to them a special child
Gave ‘em joy every time you smiled
Each time you cried
They’re at your side to care

Child, you don’t know
You’ll never know how far they’d go
To give you all their love can give
To see you through and God it’s true
They’d die for you, if they must, to see you live

How many seasons came and went
So many years have now been spent
For time ran fast
And now at last you’re strong

Now what has gotten over you
You seem to hate your parents too
Do speak out your mind
Why do you find them wrong

Child you don’t know
You’ll never know how far they’d go
To give you all their love can give
To see you through and God it’s true
They’d die for you, if they must, to see you live

And now your path has gone astray
Child you ain’t sure what to do or say
You’re so alone
No friends are on your side

And child you now break down in tears
Let them drive away your fears
Where must you go
Their arms stay open wide

Child you don’t know
You’ll never know how far they’d go
To give you all their love can give
To see you through and God it’s true
They’d die for you, if they must, to see you live

Child you don’t know
You’ll never know how far they’d go
To give you all their love can give
To see you through and God it’s true
They’d die for you, if they must, to see you live

Senin, 19 Desember 2011

Ini ceritaku, mana ceritamu? (1)

Setelah berhari-hari dikejar dan mengejar berbagai aktivitas kehidupan.... akhirnya tiba di penghujung akhir tahun. Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali mengadakan Darmawisata ke berbagai situs Majapahit, bersantai di Batu Night Spectacular, Batu Malang, mengunjungi kebun apel Malang, dan Surabaya, juga Madura.

Well, menurut rencana, Darmawisata akan berlangsung selama empat hari. Berangkat Kamis, 15 Desember 2011, pukul 5 sore dari kota Denpasar, dan kembali Minggu pagi, 18 Desember 2011, sudah tiba di kota Denpasar.

Seluruh anggota tidak dikenai bayaran, kecuali jika membawa anak dibawah usia 12 tahun wajib membayar sebesar Rp 400.000, dan selanjutnya, wajib membayar sebesar Rp 850.000. Karena Putra sulungku akan menerima raport kelasnya pada hari Jum'at, 16 September 2011, di Batur, maka kuputuskan tidak mengajaknya dalam Darmawisata kali ini. Suami juga akan tinggal di Denpasar untuk menemani sang putra sulung.

Aku sudah menemui wali kelas dari putra bungsuku, Yudhawijaya, yang bersekolah di kelas 4 SDN III Padang Sambian Kelod, untuk melaporkan bahwa dia akan kuajak serta ber darmawisata, maka raport baru akan kuterima belakangan. Sedang bagi putra sulungku yang bersekolah di SMAN I Denpasar, kuyakin dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Hmmm, smoga mereka bisa memperoleh hasil maksimal dari pelajaran selama satu semester ini.

Kusiapkan bekal selama di perjalanan hingga kembali ke Denpasar kelak. Telor asin, roti, permen, cokelat, dan mie gelas, juga minuman 4 botol besar, karena kubayangkan, perjalanan panjang, bersama anak, dan kami tidak tahu situasi dan kondisi yang bakal kami temui. Juga 4 stel pakaian ganti selama diperjalanan, peralatan mandi. Dan, canang serta dupa sebagai sarana persembahyangan kami di beberapa tempat nanti.

Saat perjalanan menuju ke lapangan Lumintang, hujan turun rintik-rintik. Suami mengendarai motor, Yudha duduk di tengah, dan aku di belakang, dengan tas ransel di pundak, dua tas ransel lagi ku pegang di kiri dan kanan.

Tiba di lapangan Lumintang, kulihat telah ada beberapa rekan kantorku beserta para anggota keluarga mereka, baik yang hanya menghantar, juga yang akan ikut serta berangkat ber darmawisata. Ada bu Merry yang staf keuangan beserta suami dan putri bungsu mereka, ada bu Lastra, bu Dayu kantin, Bu Sudjana, pak Jata, Pak Astawa beserta bu Komang dan putri bungsu mereka, bu Dayu Indra, bu Lasmini, Pak Dewa Sujatha dan istri, Pak Wisnu beserta istri dan putri bungsu mereka, dan.... masih banyak lagi lainnya.

Bis dari Nusa Dua masih dalam perjalanan menuju ke Denpasar. Ya, rekan-rekan yang tinggal di dekat Nusa Dua berkumpul di kampus STPNDB. dan diangkut dengan dua bis. Menurut rencana, mereka akan berangkat pukul 15.30. Namun akhirnya mereka baru berangkat pukul 16.15 menuju Denpasar. Hmmm, dalam berbagai kegiatan bersama dengan banyak orang, memang kita dituntut melatih kesabaran dan toleransi terhadap berbagai situasi dan kondisi yang mungkin terjadi.

Perjalanan kali ini diikuti oleh para pegawai dan dosen, beserta anggota keluarga, baik tua maupun yang termuda, 3,5 tahun, pria dan wanita, dari yang sangat sehat, hingga yang sedang sakit namun bersikeras ingin tetap ikut dalam perjalanan ini, termasuk anak bu Desak kantin yang begitu menggebu ingin bergabung berdarmawisata bersama kami, dari yang beragama Hindu maupun Islam, mungkin yang beragama Kristen sedang bersibuk menyambut Natal dan Tahun Baru. Swaha, Tuhan, semoga perjalanan kami berjalan lancar, baik di awal, di dalam, dan di akhir perjalanan......

Sabtu, 10 Desember 2011

Bahagia dan Ceria bersama Mereka....













Tempat untuk berbahagia itu ada disini....

Waktu untuk berbahagia itu kini....

Cara untuk berbahagia

adalah dengan membuat orang lain berbahagia.....




Robert G. Ingersol




Maka, kukumpulkan anak2,

bermain bersama

saling bertukar cerita.....



Mendengarkan celotehan mereka,

harapan mereka.


Selalu.....

Bagai meteor dengan sejuta asa.




Kepakkan sayap-sayap kecil mungil kalian,

anak-anakku....

Kutitipkan masa depan negeri ini pada kalian semua