Sabtu, 29 Agustus 2009

Anakku Lelaki

Mereka berlari mengisi setiap sudut hati ini.
Dengan segala kehebohan dan keunikan yang mereka miliki.

Pagi ini...
Terkapar ku di pembaringan.
Ah, hari Minggu. Aku berhak atas se hari santai, setelah sekian hari penuh kelelahan. Demikian pikirku, saat terjaga pukul enam pagi tanggal 30 Agustus 2009. Lalu kuputuskan lanjutkan mimpi dan bercengkerama dengan kata hati...

Pukul 9 kembali terjaga.
Rasa bahagia mendera, kucoba teguk segelas air penyejuk tenggorokan yang dahaga.
"Mama, sudah kucuci segala motor dan sepeda, juga sarapan pagi bersama Yudha", Sahut pangeran kecilku, putra yang pertama.

Hmmm... alangkah indahnya hari ini. Lengkap sudah bahagia yang kumiliki. Tiada apapun ku inginkan lagi. Tidak segala permata, tidak pula segala benda..
Tapi kuyakin... ini takkan bertahan lama. Karena segala kehebohan yang segera kan mendera. Namun, bersama, kuyakin kami pasti bisa... Maka Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, lindungi dan bimbing selalu keluargaku dalam hadapi untai hidup ini, anak-anakku, suamiku, keluarga dan sahabatku, hari ke hari

Jumat, 21 Agustus 2009

Petros

Petros adalah nama anak Ibu Irene Hanna Sihombing, sahabatku satu kantor yang tinggal di rumah dinas STP ND Bali. Usianya belum lagi genap dua tahun. Hem, sedang lucu-lucunya berlarian kian kemari.

Senin, 17 Agustus 2009, bu Irene termasuk salah satu dari belasan rekan yang menerima tanda penghargaan sepuluh dan dua puluh tahun mengabdi sebagai abdi negara. Sesaat setelah kami menyelesaikan rangkaian upacara bendera 17 Agustusan, Petros dan kakaknya, Daud, beserta ayah mereka, Henry Rajaidin Purba, pergi membeli berbagai kebutuhan keluarga. Dalam perjalanan pulang, mereka membeli beberapa porsi bakso yang dibungkus kantong plastik.
Petros dan Daud duduk di samping ayahnya yang mengendarai mobil kijang mereka, dengan pelat B. Entah kenapa, Petros lalu beralih pindah ke kursi di bagian belakang, menduduki tas plastik berisi beberapa bungkus porsi bakso yang sedang panas - panasnya. Tak ayal lagi, kuahnya menyiram bagian bawah tubuh Petros, punggung, dan lengan kirinya.

Pukul 10 malam, short messaging service dari ibu Irene memberitahukanku bahwa dia takkan bisa bergabung mengikuti Workshop Wirausaha Muda Mandiri pada tanggal 18 Agustus 2009 karena anaknya di ICU RS Prima Medika. Ah....

Bisa kubayangkan, andai anakku alami ini...
Hancur hatiku, anak sekecil ini, menanggung derita seberat itu, harus berpuasa dan dianalisis, diinfus, dan keesokan harinya akan dibius total untuk membersihkan kulit yang mati dan jaringan rusak akibat tersiram kuah bakso panas, sehingga bisa mempercepat tumbuhnya jaringan baru...
Mahasiswa yang baru diterima di STPNDB dan sedang mengikuti PDSP, yang alami kecelakaan hari Kamis, 13 Agustus 2009, juga dibius total di RS Sanglah, untuk menguliti jaringan yang mati akibat aspal yang melengket di bagian kaki dan tubuhnya. Apalagi Petros, anak se kecil ini, harus menanggung beban se berat itu...

Sabtu, 22 Agustus 2009, pk 11 pagi,
setelah membawa buku bahasa Bali ke tempat fotocopy untuk digandakan karena anakku menghilangkan miliknya, ku parkir motor di halaman RS Medika, menuju Gedung Ibu dan Anak, mengintip ke dalam ruang 461. Trenyuh hati ini, melihat Petros tertidur lelap, dengan balutan perban pada kedua kakinya, hingga ke pangkal paha, punggung dan bahu hingga perut bagian bawah sebelah kiri, hingga tangan kirinya. "Ia tidak pernah menangis" kata ibu Irene dengan tatap kelelahan berhari tidak tidur.

"Minggu besok kami sudah disarankan dokter untuk pulang, lebih baik dirawat di rumah, karena RS juga sumber berkembangnya penyakit, sedang Petros saat ini sangat rentan terhadap segala penyakit", demikian lanjutnya.

Tuhan....
Beri mereka kekuatan hadapi rintangan dan tantangan ini...
Berkali cobaan datang menggoda, berkali hadapi titik terendah dalam ambang emosi keluarga...
Semoga esok akan semakin baik dan semakin baik lagi...

Rabu, 19 Agustus 2009

Nidji, oh Nidji

Selasa, 18 Agustus 2009

Setelah seharian mengikuti Workshop Wirausaha Muda Mandiri yang diadakan oleh Bank Mandiri dalam rangka mengaplikasikan Corporate Social Responsibility, mereka juga memberikan selembar tiket untuk menghadiri pentas Nidji di ruang sama lokasi diselenggarakannya Workshop tadi pagi hingga sore.

Kedua anakku, Adi, klas 3 SMP Negeri 1 Kuta Utara, dan Yudha, klas 2 SD Negeri 13 Padang Sambian Klod, adalah penggemar Nidji. Mereka hapal sebagian untaian kata-kata dalam berbagai lagu Nidji. Ah, anak anakku memang aktif. Dari bernyanyi, bermain gitar bersama, menciptakan permainan dalam laptop yang mereka pergunakan bersama, berkumpul bersama teman teman, merancang berbagai aktivitas, bagai air bah dalam aktivitas keseharian, sehingga terkadang, melelahkan dalam mengikuti fase perkembangan mereka dan berbagai perilakunya.

Namun, ruang jeda waktu yang hanya satu jam, tiket yang hanya satu untuk menonton kelompok band Nidji, membuatku berpikir keras untuk pulang dari kampus Unud di Bukit ini ke rumah di Padang Sambian Klod, menjemput dan membawa mereka masuk menonton pentas Band kesayangan mereka... Hingga kuputuskan tetap bertahan dan melewatkan waktu di sini, dan menikmati hadirnya Band Nidji bersama ibu Mirah dan murid-murid lainnya.

Anak-anakku, maafkan emakmu, menikmati indahnya hadir kelompok Band Nidji, alunan dan dentuman musik, serta indah rangkai kata dari seorang Giring tanpa hadir kalian semua....
Biarlah, lain kali kan kutebus rasa bersalah diri ini.... Semoga Tuhan bantu aku bahagia kan kalian semua.