Petros adalah nama anak Ibu Irene Hanna Sihombing, sahabatku satu kantor yang tinggal di rumah dinas STP ND Bali. Usianya belum lagi genap dua tahun. Hem, sedang lucu-lucunya berlarian kian kemari.
Senin, 17 Agustus 2009, bu Irene termasuk salah satu dari belasan rekan yang menerima tanda penghargaan sepuluh dan dua puluh tahun mengabdi sebagai abdi negara. Sesaat setelah kami menyelesaikan rangkaian upacara bendera 17 Agustusan, Petros dan kakaknya, Daud, beserta ayah mereka, Henry Rajaidin Purba, pergi membeli berbagai kebutuhan keluarga. Dalam perjalanan pulang, mereka membeli beberapa porsi bakso yang dibungkus kantong plastik.
Petros dan Daud duduk di samping ayahnya yang mengendarai mobil kijang mereka, dengan pelat B. Entah kenapa, Petros lalu beralih pindah ke kursi di bagian belakang, menduduki tas plastik berisi beberapa bungkus porsi bakso yang sedang panas - panasnya. Tak ayal lagi, kuahnya menyiram bagian bawah tubuh Petros, punggung, dan lengan kirinya.
Pukul 10 malam, short messaging service dari ibu Irene memberitahukanku bahwa dia takkan bisa bergabung mengikuti Workshop Wirausaha Muda Mandiri pada tanggal 18 Agustus 2009 karena anaknya di ICU RS Prima Medika. Ah....
Bisa kubayangkan, andai anakku alami ini...
Hancur hatiku, anak sekecil ini, menanggung derita seberat itu, harus berpuasa dan dianalisis, diinfus, dan keesokan harinya akan dibius total untuk membersihkan kulit yang mati dan jaringan rusak akibat tersiram kuah bakso panas, sehingga bisa mempercepat tumbuhnya jaringan baru...
Mahasiswa yang baru diterima di STPNDB dan sedang mengikuti PDSP, yang alami kecelakaan hari Kamis, 13 Agustus 2009, juga dibius total di RS Sanglah, untuk menguliti jaringan yang mati akibat aspal yang melengket di bagian kaki dan tubuhnya. Apalagi Petros, anak se kecil ini, harus menanggung beban se berat itu...
Sabtu, 22 Agustus 2009, pk 11 pagi,
setelah membawa buku bahasa Bali ke tempat fotocopy untuk digandakan karena anakku menghilangkan miliknya, ku parkir motor di halaman RS Medika, menuju Gedung Ibu dan Anak, mengintip ke dalam ruang 461. Trenyuh hati ini, melihat Petros tertidur lelap, dengan balutan perban pada kedua kakinya, hingga ke pangkal paha, punggung dan bahu hingga perut bagian bawah sebelah kiri, hingga tangan kirinya. "Ia tidak pernah menangis" kata ibu Irene dengan tatap kelelahan berhari tidak tidur.
"Minggu besok kami sudah disarankan dokter untuk pulang, lebih baik dirawat di rumah, karena RS juga sumber berkembangnya penyakit, sedang Petros saat ini sangat rentan terhadap segala penyakit", demikian lanjutnya.
Tuhan....
Beri mereka kekuatan hadapi rintangan dan tantangan ini...
Berkali cobaan datang menggoda, berkali hadapi titik terendah dalam ambang emosi keluarga...
Semoga esok akan semakin baik dan semakin baik lagi...